Rabu, 23 Desember 2015

Sajak yang Sengaja (1)

SAJAK YANG SENGAJA (1)

Aku tidak sengaja menatapnya diantara derai-derai daun yang menyusup di ujung sepatunya sewaktu kemarau dulu.
Tapi aku sengaja bergumam kecil sambil melangkah di belakangnya
Aku juga tidak sengaja melihat butir air terlepas dari langit desember yang basah, tergelincir di rambutnya, keningnya, menetes hingga ke ujung kakinya seharian. 
Tapi aku sengaja menyetuh kulit jaketnya yang kuyup dari belakang dan menempelkan keningku agar tidak lebih menggenang
Tidak sengaja pula kudengar helaan napasnya yang memanggil telingaku agar mendengarkannya serupa puisi terlirih
Tapi aku sengaja berdiam sekedar ingin belajar cara mencintai segalanya dengan benar, dengan sopan, dengan sederhana, dengan-nya


Jangan pernah sengaja membaca ini di hadapanku
Karena aku tak benar-benar sengaja menulisnya

Tretes, 24 Desember 2015

Rabu, 16 Desember 2015

Seekor Merpati yang Mati di Ujung Ranting

SEEKOR MERPATI YANG MATI DI UJUNG RANTING

Kepada siapa ia berharap, selain langit yang melambai kepadanya
Kepada siapa pula ia hendak menangis, selain prakata yang terbenam di kedua kupingnya yang memar
Pada ranting terakhir ia berucap sendiri, sepersekian tanya yang hilir mudik
Tentang telur yang akan menetas senja nanti, atau sarang yang banjir, atau tentang maut
Angin iseng sendiri, bergoyang hingga bulu-bulu putihnya jadi mendingin
Lalu tersiar kabar :
"Seekor merpati akan mati diujung ranting"
Jauh-jauh hari sudah dikuburkannya segala yang sempit

Siang meribut,
Takdir sedang bergurau, pikirnya

Surabaya, 11 November 2015

Selasa, 08 Desember 2015

Tempat Berpulang

Bila kau jadi debu, aku ingin jadi jendela yang menenggelamkanmu
Kalau nanti mereka mengelapmu dengan kain-kain basah di sudut tembok sana; berulang-kali
Aku tidak akan khawatir
Kau tahu rumahmu

Sabtu, 28 November 2015

Sepasang Mata Melihat

SETELAH SEPASANG MATA MELIHAT


Setelah sepasang mata melihat,
jantungku meloncat-loncat,

di luar
tubuhmu serupa magnet,
atau kadang kobaran api
aku besi
atau kayu bakar

setelah sepasang mata melihat,
aku tidak bisa lagi melihat


( 2015 )

Rabu, 14 Oktober 2015

A

 A
Buat Mas Wahyu yang berada di dalam bus Yogyakarta-Pasuruan

Semacam pemantik api yang tiba-tiba memercik, pahatan matamu jua berbalik menatapku
            ; berbicara hangat
Pertembungan gelisah mengendap, menunggu ‘tuk diretaskan kemudian
Ada hari-hari bisu, ada hari-hari tuli
Namun cintamu senantiasa tahu cara menerobos segala hujan
Dan kita adalah mantel yang merangkul saling menguatkan

Jangan khawatir sayang,
Selama Juni kita masih sama, tidak ada yang berpisah

Pasuruan, 14 Oktober 2015

Sabtu, 26 September 2015

Secawan Air Mata buat Nur

Nur,
Kuberi kau secawan air mata yang kusisihkan dari tempias gerimis
Sore kemarin, sehabis pertemuan kita di bawah redup rembulan
Sekiranya kau sudi membawa pulang
Sebagai pengganti air matamu yang deras pada gerimis-gerimis hari lalu
Menepilah, awan pun terseok-seok saling menimpa dan meneduh buat kau
Kau pun tahu, aku tahu
Tiada jembatan yang harus diseberangi, pula jalan setapak yang didaki
Nun jauh disana, gelombang laut bertandang tanpa hati-hati
Biar aku hendak berlayar

Terimalah ini,
Secawan air mata yang kusisihkan dari separuh hujan;

                     cinta yang berpulang

Pasuruan, 26 September 2015

Minggu, 20 September 2015

Negeri Kentut

Diatas mimbar, kentut-kentut berdendang menggunakan mikrofon
“Kita harus brottt mengubah brottt sistem ekonomi brottt brottt
Sementara dibawah bokongnya
ada 200 juta orang sekarat karena baunya yang badeg

Di ruang pengadilan, ada kentut yang berambut putih, memakai kacamata
dan membacakan kitab ketatanegaraan
“Menurut pasal 2 brott ayat 3 brott, negeri kita broott menjunjung hak asasi manusia brott brott
Sementara di bawah mejanya
ada nenek tua hampir mati ketiban palu yang dilempar hanya karena membawa pergi sebuah sandal lusuh

Di sebuah gedung, ada kentut-kentut bertengkar berebut kentut orang lain
“saya belum selesai bicara brott ini masalah rakyat brottt bukan bla bla bla brott brott
Sementara di luar gedung
Ada pelacur yang menangis terseduh diatas ranjang sebuah hotel

Kentut ada dimana-mana.

Di negeri kami, kentut yang paling keras bisa jadi pemimpin
Untuk itu, diadakan orasi pengerasan kentut
Sehingga banyak kentut yang ikut memberi sumbangan kentut
Kata mereka biar lebih mak bruoottt
Ada yang membuat iklan, ada yang memberi kaos, ada yang memberi uang, ada yang memberi makan, ada yang memberi janji, ada yang memberi tai, eh.

Kentut ada dimana-mana

Sampai-sampai burung kebangsaan kami menutupi wajah dengan sayapnya, meringkuk
Bulunya dilucuti satu demi satu
Sementara bendera kami yang merah putih berubah menjadi warna kuning
Karena negeri kami mati
Negeri kami telah mati suri

Sebab kentut ada dimana-mana
Menjadi penjajah utama di tahun ke tujuh puluh dan seterusnya

Mari perkenalkan nama negeri kami, yaitu
Indone… broottt


Pasuruan, 15 Agustus 2015

Rabu, 16 September 2015

Yang Perlu Anda Jawab adalah

Kalau bukan karena benda menakjubkan diluar kendali kita, maka teori apa yang sanggup memecahkan permasalahan

         mengapa dadaku seolah bergetar ketika namamu sampai di telingaku ?

Senin, 14 September 2015

Trockenzeit*

Jatuh, dedaunan mencium kening sungai
Tubuhnya berkulit sawo matang mengucapkan perpisahan
Dan kicau burung bercuit-cuit memayungi rumah
Karena pagi ini matahari bertamu lebih dari hari-hari lain
Keringat mencumbu ketiak dan pori-pori dengan lebih mengecup
Di perbukitan, dahan memantapkan hati untuk kehilangan

                : ini akan jadi bulan yang panjang


Surabaya, 15 September 2015
*Musim Kemarau dalam Bahasa Jerman

sumber gambar: google

Sabtu, 12 September 2015

Ada Saman di Matamu*

Ada saman di matamu, masuk.
Serupa kelopak, layar terkembang mencuri cela-cela
di pupil, di lensa
Temaram jangkar menyangkut ibarat kepulangan yang lama dipanggil
Pula dayung-dayung retak, menuju bibir pantai: rindu
Karang dan kawanan ombak mengantar datang lewat pandangan diantara deru-deru hujan
Cita ialah sekantong jaring penuh ikan-ikanan dan kerang-kerangan
Sudah datang yang dinanti, kasih

Kaki telanjang, kepala telanjang, mata telanjang, tangan telanjang, perut telanjang, leher telanjang, hidung telanjang, hati telanjang, otak telanjang
Namun kau, laki-laki

Saman yang masuk di matamu itu,
menghisap sekumpulan asap rokok
yang dihirup nenek-nenek tua di ujung dermaga
Juga teh di pucuk senja pada sayup-sayup pohon kelapa
Kemarilah, ingin kucumbu keringatmu yang sebagian tertinggal di ujud samudera

membiru jadi air pasang di pagi hari



Pasuruan, 18 Juli 2015
*dimuat dalam Antologi Potret Langit, Oase Pustaka


Senin, 24 Agustus 2015

Kamu dan Mimpiku

Saya ingin bermimpi. Meskipun saya tidak tahu dengan pasti sejak kapan saya menginginkannya. Yang jelas, saya ingin bermimpi ketika bertemu denganmu, mas.
Banyak yang mengatakan bahwa saya adalah perempuan yang tidak realistis, terlalu banyak khayal. 
Hingga pada suatu hari yang mengubah hidup saya, pertemuan itu terjadi. Denganmu, mas.
Laki-laki dengan stok mimpi terbesar di muka bumi. 
Lalu aku memutuskan untuk kembali menjadi diriku sendiri: menulis sesuatu. Sampai sekarang.
Barangkali aku wajib berterima kasih, salah satunya dengan tulisan ini. Terimakasih, laki-laki semanis gula kapas.

"Keyakinan akan menembus segalanya dan saya hidup dengan keyainan bahwa segala apa yang saya lakukan itu bermanfaat. Maka saya tempuh. Memang tidak mudah, banyak yang meremehkan. Tapi saya hidup tidak dari kata-kata orang" - Tuan W

Minggu, 16 Agustus 2015

Merdekakah Kita?

Sudah merdekakah bangsa kita?

Merdeka adalah ketika anak-anak kita dapat berlari-lari atau bersepeda tanpa memikirkan hasil penjualan koran hari ini
Merdeka adalah ketika mahasiswa bukan hanya bisa berdemo dan mengkritik negara namun juga memberi kontribusi, solusi, dan karya nyata
Merdeka adalah ketika penjual bendera bahagia karena dagangan mereka laku bukan hanya di tanggal 17 Agustus
Merdeka adalah garuda yang tetap terbang meskipun bulunya telah dilucuti satu demi satu
Merdeka adalah bukan sekedar ucapan
Merdeka adalah gerakan


Untuk bangsaku yang akan menjadi hebat
Pasuruan, 17 Agustus 2015

Rabu, 12 Agustus 2015

Kisah Tuan dan Puan #2

Sore berembun. Puan sedang sibuk panen pelangi di kebun belakang rumah ketika ada layang-layang turun di hadapannya.

Di tempat ini, layang-layang dapat digunakan untuk berkirim surat selain burung gereja.

Puan berhenti sejenak, kemudian ia mengambil layang-layang tersebut. Ia menemukan bibit mawar dengan sebuah pesan singkat “Tanamlah bibit ini”.

Puan tersenyum dan bergegas menggali lubang kecil, kemudian dikuburnya bibit itu. Tak lama, bibit itu tumbuh tinggi sebesar rumah pohon. Puan masuk ke rumahnya dan keluar kembali sambil membawa tali yang digunakan untuk memanjat mawar raksasa itu.

Dengan sangat hati-hati Puan memanjat sambil berpegangan pada duri-durinya. Akhirnya sampai. Disana, ada sebuah ayunan yang dikaitkan di dua mahkota bunga. Ia duduk. Sambil mengamati kelopak merah yang harum mewangi.

Kemudian Puan menangis.

Ia tidak tahu alasan mengapa ia menangis. Yang ia tahu hanya ia sedang meradang rindu.
Disobeknya sedikit kelopak dan ia mulai menulis pesan.

“Terimakasih atas pemberianmu. Kuharap kita cukup tangguh untuk bertemu”


12 Agustus 2015
@agendandelion

Rabu, 15 Juli 2015

Kisah Tuan dan Puan #1

Tok tok tok
Permisi, Tuan
Ada paket dari wanita di bukit seberang.
Dia juga titip salam, katanya sudah lama ia ingin mengirim ini.

Terimakasih, kata sang Tuan
Dilihatnya paket itu dengan cermat, kemudian ia membukanya.
Ia mendapati sebuah amplop cokelat.
Saat dibuka, keluar pelukan hangat beserta rindu yang terlumat.

Sang Tuan paham betul siapa pengirim paket tersebut.
Kemudian ia bergegas mengirim surat kepadanya

“Terimakasih, ternyata pelukanmu masih sehangat dulu, dan rindumu yang ramah itu ternyata masih selalu begitu”

15 Juli 2015
@agendandelion

Minggu, 12 Juli 2015

Huh

Jika ada yang bertanya tentang hal paling mudah di dunia ini
maka jawabku hanya "mencintaimu"
buktinya aku berhasil melakukannya dengan sempurna setiap hari

Rabu, 08 Juli 2015

Catatan Rindu di Hari Kamis

Kamis...
Hangat nafasmu bersandar pada hangat pagiku,
ketika kita sama-sama membuka mata dan memulai mencintai
Rindu bisa saja serupa kata yang kita hisap, menjalar dalam tubuh masing-masing,
membayangkan rindu, sama saja melihat sosokmu yang tersenyum
rindu dan kamu mempunyai kesamaan: sama-sama menghujam
dan lebih parah jika kita sama-sama diam

tertanda,
perempuan yang belajar mencintaimu

9 Juli 2015

Sabtu, 04 Juli 2015

Dalam Saku, Ada Pandanganmu

Kusimpan pandangan-pandangan darimu
Kumasukkan dalam saku sehingga aku bisa mengeluarkannya sewaktu-waktu

Jika rindu datang menyubit waktu

Senin, 29 Juni 2015

Maaf

Kini aku mengetahui bahwa
Setiap kali aku mencoba meninggalkanmu
Aku tidak akan pernah siap untuk tidak mencintaimu

Berbicara Cinta



Surabaya, 27 Juni 2015
Ditulis dengan jantung berdebar

Selasa, 23 Juni 2015

Surat Kepada Ibu Mertua

Assalamualaikum, Buk
Semoga ibu selalu dalam lindungan terbaik-Nya
Perkenalkan, saya adalah perempuan yang kelak akan memberikan cucu kepada ibu
Cucu yang baik perangainya, seperti anak ibu, lelaki yang saya cintai
Anak lelaki ibu adalah lelaki yang sangat istimewa bagi saya
Maka dari itu, saya meminta doa dan restu ibu agar kami dapat selalu bersama
Tenang saja, saya tidak akan menggantikan posisi ibu sebagai perempuan yang paling dia kagumi
Saya tidak akan menyuruh anak ibu untuk melupakan ibu
Saya hanya ingin menjadi pendampingnya kelak

Buk,
Anak ibu berjanji untuk meminang saya empat tahun lagi
Kemudian kami akan menikah, menjadi pasangan yang bahagia
Saya akan membantu ibu menyiapkan makan di dapur
Juga membersihkan rumah ketika saya pulang dari kerja
Di sore harinya, saya akan melihat ibu menggendong anak saya dengan perasaan bahagia

Buk,
Kelak, suami ibu pun akan menjadi ayah bagi saya
Maka saya juga meminta izin agar bisa merawat beliau semampu saya
Juga memberikan perhatian terbaik saya
Tak ada yang harus tersisihkan, tak ada yang harus terlupakan

Buk,
Saya belum pandai memasak, maka saya akan belajar agar anak ibu dapat mencicipi masakan saya seraya berkata “masakan istriku sama enaknya dengan masakan ibuku”
Saya akan lebih banyak belajar dari ibu, anak ibu paling suka makan soto. Kita akan sering memasaknya.
Saya juga belum pandai merawat anak, maka dari itu ajari saya pula bagaimana memandikan cucu ibu dan hal-hal lainnya.

Buk,
Seandainya saya kelak berbuat salah, ingatkan saya tanpa ragu
Seperti yang saya bilang tadi, saya masih harus banyak belajar

Buk,
Setiap kali saya dintanya apakah saya siap menikah apa belum, saya selalu menjawab belum
Dan anak ibu yang selegit arum manis itu selalu tersenyum dan mengatakan bahwa sebenarnya saya sudah siap.
Saya hanya diam, kemudian dia akan berceloteh tentang pernikahan kami.
Dia akan bekerja sebagai guru, saya juga ingin menjadi guru

Buk,
Sudah sering kita bertemu, tapi kita tidak terlalu lama bercakap
Ketahuilah, bahwa saya adalah anak yang diam dan takut untuk memulai pembicaraan
Kadang saya memang takut bila yang saya lakukan tidak berkenan bagi ibu
Tapi anak ibu selalu menguatkan saya dengan segala ucapannya

Buk,
Ibu ingin cucu berapa nanti? Anak ibu menginginkan tiga anak
Anak pertama dan ketiga adalah laki-laki
Dan anak kedua adalah perempuan
Saya juga tidak habis pikir kenapa anak ibu bisa terpikir hingga seluas itu
Namun saya menyukai sifatnya yang seperti itu
Yang memikirkan kehidupannya di jangka luas, tidak seperti saya yang masih saja memikirkan hiburan disamping tugas kuliah yang menumpuk.

Buk,
Di samping saya, tugas-tugas s memang sudah menumpuk
Namun saya memilih menulis surat kepada ibu
Entah apa sebab musabahnya
Mungkin karena saya teringat wajah anak ibu

Buk,
Sekian surat dari saya
Mungkin ibu tidak akan membacanya, namun saya sudah merasa cukup bahagia telah menulisnya
Maaf jika ada perkataan yang membuat ibu terluka
Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa anak ibuk adalah lelaki yang istimewa dan terus menjadi istimewa. Saya mencintai saya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliknya. Dengan segala sifat-sifat yang ada pada dirinya. Saya benar-benar mencintai anak ibu.
Sekali lagi terimakasih
Semoga ibu sehat walafiat disana, kapan-kapan saya akan mampir ke rumah ibu lagi
Wassalamualaikum Wr.Wb

Dari calon anakmu,
Titin

Surabaya, 22 Juni 2015



Kamis, 28 Mei 2015

Lelaki Bunga

 1/
Lelaki bunga tergelincir di kelokan jalan panjang

Ia pernah rekah di tepi padang waktu sunyi pagi terbit
Dan lepas ketika matahari pasang wajah di setengah hari terik,
Tak ada yang melihatnya,
                Kecuali kau
Yang tubuhmu mengabukan

Sayang tak ada yang bisa kau lakukan, kecuali menangis


2/
                Lelaki bunga tiba di perempatan jalan.

Hujan menunggu di depan pintu
Dan kau, mengirimkan air mata ke awan
Aspal dan trotoar merah kuning menjadi basah

Kalian masih saja saling diam dan tak ada jarak sebagai pemutusan


3/
                Kemudian adalah angin
Yang mengatakan: biar aku yang membawamu sampai ke rumah
Kau bertengkar dengan abu-abumu sendiri, saling menghujat dan memaki.
Sementara jam mulai berjalan ke barat.
Dan mereka telah pergi


4/
Lelaki bunga dan angin sore, mereka telah pergi
Dan puisimu berhenti di alenia ini.

Jumat, 09 Januari 2015

Cinta, mati

Aku mencintaimu,
maka ajari aku untuk mati,
sebab mati ialah caraku mengenal hidup