Senin, 24 Agustus 2015

Kamu dan Mimpiku

Saya ingin bermimpi. Meskipun saya tidak tahu dengan pasti sejak kapan saya menginginkannya. Yang jelas, saya ingin bermimpi ketika bertemu denganmu, mas.
Banyak yang mengatakan bahwa saya adalah perempuan yang tidak realistis, terlalu banyak khayal. 
Hingga pada suatu hari yang mengubah hidup saya, pertemuan itu terjadi. Denganmu, mas.
Laki-laki dengan stok mimpi terbesar di muka bumi. 
Lalu aku memutuskan untuk kembali menjadi diriku sendiri: menulis sesuatu. Sampai sekarang.
Barangkali aku wajib berterima kasih, salah satunya dengan tulisan ini. Terimakasih, laki-laki semanis gula kapas.

"Keyakinan akan menembus segalanya dan saya hidup dengan keyainan bahwa segala apa yang saya lakukan itu bermanfaat. Maka saya tempuh. Memang tidak mudah, banyak yang meremehkan. Tapi saya hidup tidak dari kata-kata orang" - Tuan W

Minggu, 16 Agustus 2015

Merdekakah Kita?

Sudah merdekakah bangsa kita?

Merdeka adalah ketika anak-anak kita dapat berlari-lari atau bersepeda tanpa memikirkan hasil penjualan koran hari ini
Merdeka adalah ketika mahasiswa bukan hanya bisa berdemo dan mengkritik negara namun juga memberi kontribusi, solusi, dan karya nyata
Merdeka adalah ketika penjual bendera bahagia karena dagangan mereka laku bukan hanya di tanggal 17 Agustus
Merdeka adalah garuda yang tetap terbang meskipun bulunya telah dilucuti satu demi satu
Merdeka adalah bukan sekedar ucapan
Merdeka adalah gerakan


Untuk bangsaku yang akan menjadi hebat
Pasuruan, 17 Agustus 2015

Rabu, 12 Agustus 2015

Kisah Tuan dan Puan #2

Sore berembun. Puan sedang sibuk panen pelangi di kebun belakang rumah ketika ada layang-layang turun di hadapannya.

Di tempat ini, layang-layang dapat digunakan untuk berkirim surat selain burung gereja.

Puan berhenti sejenak, kemudian ia mengambil layang-layang tersebut. Ia menemukan bibit mawar dengan sebuah pesan singkat “Tanamlah bibit ini”.

Puan tersenyum dan bergegas menggali lubang kecil, kemudian dikuburnya bibit itu. Tak lama, bibit itu tumbuh tinggi sebesar rumah pohon. Puan masuk ke rumahnya dan keluar kembali sambil membawa tali yang digunakan untuk memanjat mawar raksasa itu.

Dengan sangat hati-hati Puan memanjat sambil berpegangan pada duri-durinya. Akhirnya sampai. Disana, ada sebuah ayunan yang dikaitkan di dua mahkota bunga. Ia duduk. Sambil mengamati kelopak merah yang harum mewangi.

Kemudian Puan menangis.

Ia tidak tahu alasan mengapa ia menangis. Yang ia tahu hanya ia sedang meradang rindu.
Disobeknya sedikit kelopak dan ia mulai menulis pesan.

“Terimakasih atas pemberianmu. Kuharap kita cukup tangguh untuk bertemu”


12 Agustus 2015
@agendandelion