Kamis, 26 Juni 2014

Pangeran tak berkuda

Aku punya seorang pangeran tapi tak berkuda

Kalian mungkin tak percaya, tapi dia benar-benar lebih tampan dari pangeran-pangeran disnep yang pernah aku lihat. Senyumnya lebih memabukkan dari aroma bunga edelweis kering yang pernah aku hirup.
Dan hei coba lihat sorot matanya, tak ada bening yang lebih tenang daripadanya.
Pangeranku tak perlu memakai baju bangsawan, aku lebih sering melihatnya dengan kaos dan jaketnya. Rambutnya terlihat acak-acakan, tapi itu dulu.

Jika biasanya pangeran mempunyai senjata pedang dan tameng, pangeranku yang satu ini punya senjata pena dan kertas. Kemudian akan ada bulir-bulir sajak yang membuat dadaku berdegup kencang membuat udara di sekitar menjadi redup hangat. Sekali lagi, dia berhasil membuatku takluk

Seandainya aku bisa menyulap jarak menjadi dekat ,
Seandainya aku mampu berkonspirasi dengan jarum jam agar ia mau lebih lambat berjalan ,
Seandainya aku sanggup  mengatakan 'aku mencintaimu' dengan sangat lirih ke telinga kanannya, kemudian kita saling pandang dengan dengan mata saling berbinar ,
Dan seandainya aku berhenti berandai-andai

Aku punya seorang pangeran tapi tak berkuda
And now, i miss him more than words can say

Rabu, 23 April 2014

Kepadamu . .

Untukmu lelakiku,
Tuan pemilik kesederhanan

Kukirim sajak ini sepeninggal hujan, ketika teras rumah menggigil kedinginan
Kuharap kau mau membacanya, atau sekedar meilirknya barangkali

Boleh aku bertanya
Sihir apa sebenarnya yang kau gunakan? hingga aku bisa sebegini jatuh ke dalam lubang yang entah berapa meter dalamnya. Mantra apa pula yang kau ucapkan? hingga aku berhasil menjadi semacam pecandu rindu, akan lekuk wajahmu,  senyummu, aroma jaketmu, getar suaramu, lebih-lebih terhadap janji-janji yang entah kau tepati atau tidak.

Untukmu lelakiku,
Tuan pemilik keteduhan

Kulanjutkan sajak ini dengan rasa getir, takut pabila kau tak menyukainya atau malah tertawa jijik dengan apa yang ku tulis. Aku tahu sungguh aku tahu, belum pantas aku menggilaimu.

Aku tak pernah berhenti menunggu. Tak lelah dan tak mau ambil lelah

Meski ada cemas,
resah, kecewa
cemburu, marah
gelisah.
Ada haru

Untukmu lelakiku,
Muara rasa rindu

Kata apa lagi yang sanggup ku tuliskan jika sebenarnya kau tak perlu dan tak bisa dituliskan.Sebab ku tahu jika kau adalah kata yang hanya bisa kupahami lewat rasa, puisi yang hanya bisa ku baca lewat cinta, nama yang hanya bisa kuresapi lewat doa.


Kepadamu lelakiku.
Aku mencintaimu.. sungguh

Rabu, 16 April 2014

Rabu, 19 Maret 2014

Bohong (!)

23.30

"Sudah larut, kenapa kau belum tidur?"
"Kurasa aku harus merampungkan setumpuk tugas ini" jawabku

*****
Ada yang tak bisa dan tak kan pernah berbohong

"Sudah larut, kenapa kau belum tidur?"
"Kurasa aku harus menunggu ucapan -Selamat Malam- darinya" resahku

Kamis, 13 Maret 2014

Maret ini, Tuan

Tuan, Maret ini segala rindu membuncah di udara
Menjadikan elegi menjadi gulali
Tuan, Maret ini segala rindu gugur bersama sakura
Menyamarkan jalan menjadikannya lebih sedap
Tuan, Maret ini segala rindu menguar dari tubuhku
Memberi aroma ringan yang sering ku hirup sendiri

Tuan, Maret ini rindu padamu masih menjadi kebiasaanku
Lalu masihkah kau tanyakan perihal rasa cintaku?


Dimana Maret ini aku masih menulis untukmu

Sabtu, 08 Maret 2014

Meja 28

Tentang debu yang menumpah
Usap biru, usap bening
Jus sirsat dan apukat enggan meggoda
Dan kita.. saling mengeja
Lewat canda, tawa merendah

Teh November

Suatu masa, pada teh november
Cerita dibalik perputaran rak buku
Seragam, gorden, dan secarik pesan

Teh november
Pada ungu lembayung
Asmara yang kian ranum

Aku rindu, senada dengan sendu

Pengagummu

Sabit sekelumit
Temaram di senyummu
Memaksaku berkata
"Aku mengagumimu"