Jumat, 22 Desember 2017

DELAPAN BULAN

DELAPAN BULAN

hari jumat, persis seperti 8 bulan yang lalu,

kenangan melipat-lipatkan tubuhnya dan setiap hari kita membantu membukanya

ada saat kau membetulkan hasduk pramuka di seragamku pada hari Kamis puluhan tahun silam;
membuatkanku susu putih di hari Senin;
membelikanku roti cokelat pada 24 Oktober;
membenarkan tuts keyboard yang rusak,
mendidihkan air di waktu pulang sekolah;
memasakkan nasi goreng;
menjemput di terminal;


dan tersenyum di hari Jumat, 8 bulan yang lalu.

Minggu, 17 September 2017

yang terhormat

barangkali kalau ketemu saya akan menampar kamu

mère

saya sedang membayangkan menjadi seorang perempuan yang ditinggal wafat suami saya, 
saya janda dengan dua orang anak, satu laki-laki sudah bekerja, satu perempuan masih kuliah; kedua-duanya merantau di luar kota.

setiap hari saya di rumah sendiri, benar-benar sendiri.

dahulu, rumah ini begitu sempit dan hangat, penuh tawa dan terikan disana-sini. tapi sekarang tidak lagi, tidak ada kamar berantakan, tidak ada pakaian menumpuk di mesin cuci, tidak ada lagi yang saya bangunkan di pagi hari dan bersama-sama melihat acara di televisi di sore hari, rumah ini begitu sepi dan dingin. ubin-ubin menjadi lebih membeku dan udara terasa menusuk di paru-paru.

saya akan terisak di sepanjang malam, dan di hari-hari biasa saya akan lebih banyak melamun, mungkin kadang-kadang melihat beberapa album yang fotonya sudah kecokelatan dimakan jamur di sana-sini, melihat foto anak-anak di pesta ulang tahun dan beberapa lembar potret pernikahan saya dan almarhum suami saya, mungkin di satu waktu saya akan membuka almari dan menarik beberapa helai pakaian suami dan anak-anak saya jika rindu aroma mereka.

Di hari jumat, seteleh menyeterika baju yang hanya sedikit, saya akan membeli bunga dan pergi ke makam untuk memberseihkan pusara dari rumput-rumput yang tidak saya biarkan meninggi, di bawahnya sedang ada seorang laki-laki yang tertidur pulas.

Tidak, saya sama sekali tidak mengutuk Tuhan atas segala hal yang saya alami. Saya tahu Tuhan selalu memberi jalan yang terbaik, saya hanya perlu ikhlas.
Beberapa kali saya bercermin, rambut saya mulai banyak uban dan tersadar bahwa saya tidak lagi muda. Sebentar lagi anak-anak saya mungkin akan menikah, ada rasa sedih, tapi inlah yang terbaik, saya tidak boleh egois.

saya saya sedang membayangkan menjadi seorang perempuan yang ditinggal wafat suami saya, 
saya janda dengan dua orang anak, satu laki-laki sudah bekerja, satu perempuan masih kuliah; kedua-duanya merantau di luar kota,
tapi untuk membayangkannya saja saya tidak kuat.

Selasa, 29 Agustus 2017

Frú

hari ini di meja makan, ada sepiring rindu yang kita siapkan.
kita kunyah pelan-pelan.
dan rasa lebam tenggelam di tenggorokan dengan perlahan.
kita mesti sabar, katamu barangkali.
ini tentang hati, mas, dan hati perempuan adalah keras kepala yang paling menyebalkan.

tertanda,
tanda kurung

Sabtu, 06 Mei 2017

BURUNG-BURUNG DI TUBUH MELATI

BURUNG-BURUNG DI TUBUH MELATI

Suatu pagi di penghujung bulan Januari, sewaktu hujan turun sederas-derasnya dan adzan ashar terdengar sayup-sayup, seorang bocah perempuan berumur 6 tahun sedang asyik berbincang dengan burung-burung di dalam tubuhnya.
“Kalau kalian berkaki empat dan memiliki puting susu, apa mungkin kalian masih bisa disebut sebagai burung?” Tanyanya pada burung-burung di dalam tubuhnya.
“Atau kalau saumpama kalian punya belalang seperti gajah, apa bisa kalian tetap disebut sebagai burung?”
Tidak ada jawaban.
“Sebenarnya apa sih yang disebut dengan burung? Apa yang bisa terbang? Bagaimana dengan burung merak? Apa yang punya paruh? Lalu bagaimana pinguin?”
Pertanyaan-pertanyaan itu memutari otaknya nyaris sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang waktu. Hujan berangsur ringan, suara adzan sudah lenyap berganti dengan suara anak-anak membaca kitab di Mushollah.
Melati, anak perempuan yang memelihara banyak burung dalam tubuhnya. Saban hari ia memberi makan burung-burungnya dengan jagung muda yang tidak ia beli di pasar, juga bukan di warung-warung. Ia memetiknya langsung dari ladang jagung yang ia tanam sendiri, juga di tubuhnya.
Ibunya, Maryam, adalah perempuan berusia sekitar 40-an yang bekerja sebagai tukang pijat. Selalu saja ada orang yang datang ke rumah untuk dipijat, mulai dari kaki, tangan, kepala, punggung, perut, hingga bagian-bagian lain. Bagi Melati, ibunya tak lebih istimewa dari burung-burung yang ia punya.
Melati tidak menyukai ibunya dari sisi mana pun, bahkan untuk menyukai sehelai rambutnya pun najis. Maryam suka memukul Melati menggunakan rotan, melemparnya dengan kursi, menyiramnya dengan air comberan, bahkan menguncinya dalam kamar mandi seharian tanpa diberi makan.
“Dengar ya! Jika kamu terus memelihara burung-burung dalam tubuhmu, lama-lama mereka akan memakan seluruh anggota tubuhmu tanpa tersisa. Jantungmu, ususmu, ginjalmu, ototmu, bahkan tulang-tulangmu akan dimakan habis!”
“Tapi kan burung tidak makan manusia.”
“Dasar anak congok! Persis kayak bapaknya yang suka main burung. Kamu pikir siapa yang membunuh ibu seperti ini kalau bukan burungnya bapakmu! Semua laki-laki juga suka main burung. Brengsek!” Umpatnya.
Melati melongo, tidak mengerti apa yang dikatakan ibunya. Tapi satu yang ia tahu: ia dan bapaknya sama-sama punya satu kesamaan, sama-sama suka bermain dengan burung. Juga laki-laki lainnya.
 Kamar pijat Maryam berada di ujung rumah dekat dengan dapur. Jika Melati menuju dapur, selalu saja terdengar suara-suara aneh dari kamar pijat ibunya. Suara yang sangat menjijikkan. Suatu ketika karena penasaran ia intip pintu kamar ibunya melalui lubang kunci. Ia melihat ibunya telanjang, bersama laki-laki pelanggan pijat—yang juga telanjang, mereka saling menindih. Ternyata begitu ya cara mijat. Melati pergi menuju dapur.
Suatu sore ketika langit serupa jeruk dan awan jingga kemerahan, Melati bermain-main dengan burung-burung di tubuhnya, tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk. Melati mengintip melalui jendela. Dilihatnya seorang lelaki menggunakan kemeja biru tua, celana kain cokelat, dan membawa tas yang terlihat masih baru, juga mengenakan sepatu pantofel merah pekat. Tidak ada siapa pun di rumah, ibunya baru saja pergi untuk membeli gula di warung seberang jalan. Akhirnya Melati membuka pintunya, perlahan.
“Mau cari ibu ya Om?” Kata Melati.
“Iya. Ibunya ada?”
“Ibu masih keluar, Om.”
“Eh, iya.”
“Ya sudah om masuk dulu om. Tunggu di dalam. Sebentar lagi ibu juga datang.”
Melati mempersilahkan laki-laki itu duduk di ruang tamu. Ia dan laki-laki tersebut duduk berseberangan. Lima menit berselang, Maryam belum juga datang.
“Om juga suka main burung?” Melati bertanya.
“Hah?” Laki-laki tersebut mendadak bingung.
“Iya, Om. Kata ibu semua laki-laki suka main burung. Aku juga suka kok main sama burung, Om.”
Laki-laki itu kemudian tertawa. Tertawa terpingkal-pingkal, lama sekali. Melati menjadi lebih bingung lagi.
Tak lama berselang, terdengar seseorang membuka pintu. Maryam datang dengan di tangan kanannya membawa kantong keresek hitam.
“Eh, ada Mas Burhan. Sudah nunggu lama, Mas?”
“Emm, nggak juga kok, Yam.” Burhan menahan tawa.
“Emm, anu, Yam. Tadinya aku mau mijetin anakku kesini, tapi kayanya nggak jadi deh.”
“Lho kenapa, Mas?”
“Yam, Yam, kamu itu ya, kalau mau kentu atau melacurkan diri ya nggak apa-apa. Silahkan. Tapi ya jangan ajarkan ke anakmu. Nggak bagus. Masak ya kamu ngajarin dia mainin burung. Hahaha. Yam, Yam. Sudah ya aku pamit dulu. Assalamualaikum.”
Laki-laki itu mengambil tasnya dan berdiri. Sebelum keluar, ia sempatkan untuk mengusap-usap kepala Melati. Melati memandangi laki-laki itu sampai ia membuka pintu, mengenakan sepatu, dan menoleh terakhir kali kepadanya. Lalu ia menghilang. Tatapannya beralih ke arah ibunya. Sekejap ia merasakan ada yang melayang keras ke pipinya. Sebuah tamparan.
“Puas kamu mempermalukan ibuk? Anak goblok! Brengsek.”
Plaaaak. Sebuah tamparan lagi.
Melati tertunduk. Tidak, kali ini ia sama sekali tidak menangis. Kedua tangannya menggenggam erat. Sudah berkali-kali ia disiksa tanpa tahu kesalahan apa yang ia lakukan. Ia tidak lagi bisa menangis.
Ibunya mengambil lengannya dengan kasar dan menyeretnya ke dalam kamar. Dihempaskan tubuh gadis itu sampai tebentur dipan kasur. Ah!. Melati berteriak ringan .
“Kamu tidak boleh keluar kamar sampai kamu benar-benar mengeluarkan burung-burung itu dari tubuhmu!”
Maryam keluar. Pintu ditutup dengan keras. Terdengar suara celkekan kunci.
Melati diam. Kakinya ditekuk. Tubuhnya bergetar. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya sakit. Sakit sekali. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin membasahi tubunya, matanya membelalak. Ia mengerang dan mengerang lebih keras. Hingga ia berteriak begitu kencang.
“Saaaaa..aaaaaaaa..kiiiiiittt!!!
Lalu ia merasakan dunia menjadi gelap dan tubunya melayang.
Maryam cepat-cepat datang. Ia membuka pintu dan betapa kagetnya ketika ia menemukan Melati terbujur kaku. Dengan burung-burung di sekitarnya.


Surabaya, 06 Mei 2017
x

Minggu, 09 April 2017

Kumbang

di taman paru-paruku, ada kumbang, di taman paru-parumu juga
di waktu pagi ia adalah udara yang memberi penghidupan, dan di malam ia adalah doa yang samar-samar mengembang dan mengempis dengan ringan

di taman paru-paruku, ada kumbang, di taman paru-parumu juga
dari jauh ia tampak abu-abu, dan ketika disetuh ia pecah menjadi bubuk pelangi
harumnya seperti aroma roti pandan, katamu, aku juga begitu

di taman paru-paruku, ada kumbang, di taman paru-parumu juga
ia suka berlari membuat batuk-batuk sesekali
atau bersin-bersin di lain kali
tapi lebih sering membuat tertawa geli

di taman paru-paruku, ada kumbang, di taman paru-parumu juga,

paru-paruku, paru-parumu

rupa-rupaku, rupa-rupamu

ada kumbang, ada kembang

Kamis, 09 Februari 2017

QUAND PLUIE BAS*

Di luar akan tetap hujan.
Meski kau tertawa maupun menangis hari ini.
Akan sama saja.
Dalam almari memorimu, setumpuk hari Sabtu lupa untuk kau seterika.
Sudah lama tak kau kenakan.
Mari membuat kopi susu, yang ampasnya serupa debu-debu yang menggigil.
Mungkin kita bisa bercakap, bisa tentang atap rumah yang bising,
atau percakapan yang asing.

Pasuruan, 09 Januari 2016
Sewaktu hujan turun – terus-menerus

*ketika hujan turun dalam Bahasa Perancis

Rabu, 08 Februari 2017

PASAR DAN APA-APA YANG DI KEPALAMU

TANAH LEMBAB
Air yang kau injak itu melamun di atas tanah semalaman, enggan beranjak.
Juga duri-duri ikan terunduk di muara tikungan, memasrahkan diri.
Pagi basah, kau tak bertanya mengapa dan pagi tak bertanya jua.
Tanah lembab menjemput maut, beribu orang saling berbebut.
            ; pagi telah dimulai.              


PASAR KARANG MENJANGAN DI WAKTU PAGI
Kutemui kau di Pasar Karang Menjangan di waktu pagi, tatkala lanskap ikan tenggiri memburu.
Buru-buru kutahan ingatan perihal sunyi yang lebat di ujung-ujung teriakan.
Semakin apek desakan orang, semakin mewangi.
Lalu sayur-mayur menjelma ahli tafsir. Menerka-nerka pandangan yang abu-abu.
Dan mereka buatku candu.
Daging-daging ayam memandang ke arah langit, melihat arwahnya sendiri melambai.
Lalu diriku menjelma kerikil yang kau injak, merapal langkah demi langkah.
Terhenti di kelokan, tertinggal di selokan.


KANGKUNG
Kangkung menggeliat di meja cokelat kepunyaannya. Melontarkan sumpah serapah.
Mereka tak mendengarnya.
Kangkung menggedor-gedor meja cokelat kepunyaannya. Membenturkan kepalanya berkali-kali.
Mereka tak mendengarnya.
Aku ingin bersiasat pergi menuju ladang di sana, ucapnya sambil terisak.
Kangkung meringkuk pasrah di kantong plastik kepunyannya. Menyandarkan badannya yang gemetar.
Pada akhirnya ia mendoakan takdir, supaya tak melarakan.
Pada akhirnya ia mendoakan diri, supaya digoreng tak menyakitkan.


PEDAGANG GORENGAN
Gorengan buk, gorengan
Katanya sambil memasak kepalanya sendiri


YANG BISA TERJADI DI SEBUAH PASAR
Ada yang bisa terjadi di sebuah pasar.
Kau lihat bayanganmu pada sebuah brokoli, terkelupas dan begitu-begitu juga.
Kau menatap nanar kucing yang memanggilmu meong, kau mengendus.
Atau matahari turun dari langit dan ikut menjual cahanya.
Atau mungkin bangkai ikan menyulap diri menjadi timbangan beras.
Atau….

Senin, 02 Januari 2017

have a big heart is important

berbahagialah,
meski kita terlahir dengan kulit hitam 
atau
berbadan pendek,
karena kita bisa tahu mana orang yang mencintai kita dengan hati,
bukan dengan matematika.

berbahagialah,
meski kita tidak terlalu pintar,
karena kita bisa memiliki keajaiban yang tidak dimiliki orang-orang pintar sejak lahir
   : mimpi dan perjuangan.

berbahagialah,
meski kita lahir dari orangtua yang tidak terlalu kaya,
karena kita dijarkan untuk tidak angkuh, tidak manja, tidak congkak. 

berbahagialah, 
meski mimpi-mimpi kita dianggap tidak berharga bahkan dijadikan bahan olokan,
sebab mata kita melihat jalan, yang mata orang lain tidak melihatnya,

berbahagialah,
meski kita introvet, meski kita ceroboh, meski kita selalu lupa, meski kita sering salah, meski kita jarang bisa bergaul, meski tidak bisa memasak, meski dianggap aneh, meski dianggap gila, meski sering meneteskan air mata, meski banyak cita-cita kita belum terwujud: pergi ke luar negeri, menerbitkan buku, membangun rumah singgah, membangun sekolah, menjadi orang berguna.

tetap berbahagialah,

sebab hidup terlalu pendek untuk tidak berbahagia.


surabaya, 2 januari 2017