ENTROK, OKKY MADASARI
Akan kukejar
keadilan sampai ke mana pun. – Entrok, Okky Madasari
Sejak semester kemarin, saya disibukkan dengan proses
membaca yang secara berulang saya lakukan terhadap beberapa novel Okky
Madasari: Entrok, Maryam, dan Pasung Jiwa. Memang harus saya akui
bahwasannya membaca dan menyelami pemikiran Okky Madasari yang dipenuhi oleh
wacana-wacana kebebasan yang dituangkan melalui karya-karyanya menjadi sesuatu
yang begitu menyenangkan dan menyedihkan secara bersamaan. Saya telah membaca
kelima novel Okky Madasari dan sedang dalam proses membaca satu-satunya
kumpulan cerpennya, juga berusaha mengumpulkan uang untuk membeli buku
terbarunya yang saya nanti-nantikan jauh sebelum ia diterbitkan: Mata di Tanah Melus.
Kesibukan membaca tiga novel Okky Madasari didasarkan
karena ketiga novel tersebut saya jadikan objek skripsi dengan fokus pembahasan mengenai fungsi (fungsi yang dimaksudkan adalah unsur yang tetap)
terkait kekerasan terhadap kaum marjinal. Kali ini secara khusus saya ingin
membahas Entrok.
*
Entrok berkisah menggunakan dua pencerita yaitu tokoh
Marni dan anaknya, Rahayu. Marni ialah seorang pribumi jawa penyembah leluhur yang
buta huruf sementara Rahayu ialah perempuan terpelajar yang penganut islam yang
taat. Saya rasa, sampai disini pembaca dapat memprediksi bagaimana konflik
kedua tokoh yang kontradiktif tersebut. Pada halaman depan Okky Madasari
menulis:
Untuk mereka yang menyimpan
Tuhan masing-masing
Dalam hatinya
Sehingga menurut hemat saya, Okky Madasari memang
menekankan terhadap wilayah-wilayah keyakinan. Namun, yang menarik perhatian bukan
wilayah-wilayah tersebut, melainkan kekerasan yang dialami oleh tokoh-tokoh
yang saya sebut sebagai tokoh marjinal. Terdapat dua tokoh yang menarik
perhatian saya yaitu Mehong dan Ndari. Keduanya membuat saya tidak berhenti mengernyitkan
dahi sejak awal membayangkan kekerasan brutal yang mereka hadapi. Saya ngeri setengah mati.
Entrok adalah sebuah refleksi bagaimana militerisme pada
zaman orde baru adalah sebuah bentuk penindasan terhadap masyarakat sipil yang
disajikan melalui 8 babak dengan rentang waktu tahun 1950-1994. Segala bentuk kekerasan
militerisme hadir dalam novel ini, mulai dari pemalakan, terror, intimidasi,
pemenjaraan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan yang hampir semuanya dilakukan oleh
tentara. Memang, dalam Entrok saya
melihat bagaimana dominasi tentara yang sangat dogmatis.
Meskipun dalam pembacaan awal (saya baru membaca
novel ini pada tahun 2015) saya merasa bosan dengan narasi penulis yang
barangkali memang didasari oleh ketidaktertarikan saya terhadap politik dan
sejarah (pada waktu itu), namun Entrok
mampu menjerumuskan saya untuk terus tenggelam hingga halaman terakhir yang
begitu membuat saya geram. Saya geram
terhadap tokoh-tokoh dalam novel tersebut.
Surabaya, 5 April 2018
