Sepuluh
besar puisi terbaik Lomba penulisan Puisi Festival Sastra UGM tingkat nasional
2016
RUMAH
ASAP
Untuk Ayah Ros, dengan segala
kerendahan hati
Seribu
tubuh berapi meledak di tujuh mata angin; memecah sejuta ubun-ubun.
Seorang
laki-laki melempar jangkar panas, bocah lelaki membuat panah batubara dan
menusukkan kepada jejantung.
Di
langit-langit, neon berdebum membelah matahari terbit dan membaginya di atas
pemakaman.
Pintu
menanggalkan pakaian, iblis mengetuk sambil berbisik “sejauh apapun berlayar,
sampanmu akan karam”. Ia lupa bahwa mereka keserupan sebelum ia datang.
Tik tok tik tok tik tok
Jam
dinding berdetak kesemutan, bugenvil terbatuk masuk angin.
; tapi terlanjur membara.
Dalam-dalam
sepanjang jalan dipenuhi arang hitam melegam, kaki telanjang terbirit belum
sempat dicuci. Menjemput si jabang bayi yang lahir dari lumbung padi.
Tik tok tik tok tik tok
Jantung
mengigil, sudah tua katanya, dan mata mulai mengatup.
; tapi terlanjur membabi buta.
Sebuah
rumah mengasap mengebul meluruhkan karang-karang jantung di sudut kota, meniup hembus
karat-karat pagar bangunan bermata tiga. Bebatuan meletup jadi kembang mengapi.
Dan
nafas sebentuk narasi bibir jurang seketika terbenam dalam sebongkah mesiu. Ah!
Jasad-jasad
menembang mewangi.
; kidung belati
Seribu
tubuh berapi merajai di tujuh mata angin; mencakar berjuta-juta ubun-ubun.
Seorang
laki-laki sedang melempar mantra. Anak-anak membuat tembikar dari lempengan waluku
utara.
Rumah
mengasap membumbung sampai tulang nadi remuk mengabu, menghujam ke mata-mata
retak.
; mata yang mengapak
Pasuruan,
10 April 2015