TANAH LEMBAB
Air yang kau injak itu
melamun di atas tanah semalaman, enggan beranjak.
Juga duri-duri ikan terunduk
di muara tikungan, memasrahkan diri.
Pagi basah, kau tak
bertanya mengapa dan pagi tak bertanya jua.
Tanah lembab menjemput
maut, beribu orang saling berbebut.
;
pagi telah dimulai.
PASAR KARANG MENJANGAN DI WAKTU PAGI
Kutemui kau di Pasar
Karang Menjangan di waktu pagi, tatkala lanskap ikan tenggiri memburu.
Buru-buru kutahan
ingatan perihal sunyi yang lebat di ujung-ujung teriakan.
Semakin apek desakan
orang, semakin mewangi.
Lalu sayur-mayur
menjelma ahli tafsir. Menerka-nerka pandangan yang abu-abu.
Dan mereka buatku
candu.
Daging-daging ayam
memandang ke arah langit, melihat arwahnya sendiri melambai.
Lalu diriku menjelma
kerikil yang kau injak, merapal langkah demi langkah.
Terhenti di kelokan,
tertinggal di selokan.
KANGKUNG
Kangkung menggeliat di
meja cokelat kepunyaannya. Melontarkan sumpah serapah.
Mereka tak
mendengarnya.
Kangkung menggedor-gedor
meja cokelat kepunyaannya. Membenturkan kepalanya berkali-kali.
Mereka tak
mendengarnya.
Aku ingin bersiasat
pergi menuju ladang di sana, ucapnya sambil terisak.
Kangkung meringkuk
pasrah di kantong plastik kepunyannya. Menyandarkan badannya yang gemetar.
Pada akhirnya ia mendoakan
takdir, supaya tak melarakan.
Pada akhirnya ia
mendoakan diri, supaya digoreng tak menyakitkan.
PEDAGANG GORENGAN
Gorengan buk, gorengan
Katanya sambil memasak
kepalanya sendiri
YANG BISA TERJADI DI SEBUAH PASAR
Ada yang bisa terjadi
di sebuah pasar.
Kau lihat bayanganmu
pada sebuah brokoli, terkelupas dan begitu-begitu juga.
Kau menatap nanar
kucing yang memanggilmu meong, kau mengendus.
Atau matahari turun
dari langit dan ikut menjual cahanya.
Atau mungkin bangkai
ikan menyulap diri menjadi timbangan beras.
Atau….