Lelaki
bunga tergelincir di kelokan jalan panjang
Ia pernah rekah di tepi padang waktu sunyi pagi terbit
Dan lepas ketika matahari pasang wajah di setengah hari terik,
Tak ada yang melihatnya,
Kecuali kau
Yang tubuhmu mengabukan
Sayang tak ada yang bisa kau lakukan, kecuali menangis
2/
Lelaki bunga tiba di perempatan jalan.
Hujan menunggu di depan pintu
Dan kau, mengirimkan air mata ke awan
Aspal dan trotoar merah kuning menjadi basah
Kalian masih saja saling diam dan tak ada jarak
sebagai pemutusan
3/
Kemudian adalah angin
Yang mengatakan: biar aku yang membawamu sampai
ke rumah
Kau bertengkar dengan abu-abumu sendiri, saling
menghujat dan memaki.
Sementara jam mulai berjalan ke barat.
Dan mereka telah pergi
4/
Lelaki
bunga dan angin sore, mereka telah pergi
Dan puisimu berhenti di alenia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar