Sabtu, 26 September 2015

Secawan Air Mata buat Nur

Nur,
Kuberi kau secawan air mata yang kusisihkan dari tempias gerimis
Sore kemarin, sehabis pertemuan kita di bawah redup rembulan
Sekiranya kau sudi membawa pulang
Sebagai pengganti air matamu yang deras pada gerimis-gerimis hari lalu
Menepilah, awan pun terseok-seok saling menimpa dan meneduh buat kau
Kau pun tahu, aku tahu
Tiada jembatan yang harus diseberangi, pula jalan setapak yang didaki
Nun jauh disana, gelombang laut bertandang tanpa hati-hati
Biar aku hendak berlayar

Terimalah ini,
Secawan air mata yang kusisihkan dari separuh hujan;

                     cinta yang berpulang

Pasuruan, 26 September 2015

Minggu, 20 September 2015

Negeri Kentut

Diatas mimbar, kentut-kentut berdendang menggunakan mikrofon
“Kita harus brottt mengubah brottt sistem ekonomi brottt brottt
Sementara dibawah bokongnya
ada 200 juta orang sekarat karena baunya yang badeg

Di ruang pengadilan, ada kentut yang berambut putih, memakai kacamata
dan membacakan kitab ketatanegaraan
“Menurut pasal 2 brott ayat 3 brott, negeri kita broott menjunjung hak asasi manusia brott brott
Sementara di bawah mejanya
ada nenek tua hampir mati ketiban palu yang dilempar hanya karena membawa pergi sebuah sandal lusuh

Di sebuah gedung, ada kentut-kentut bertengkar berebut kentut orang lain
“saya belum selesai bicara brott ini masalah rakyat brottt bukan bla bla bla brott brott
Sementara di luar gedung
Ada pelacur yang menangis terseduh diatas ranjang sebuah hotel

Kentut ada dimana-mana.

Di negeri kami, kentut yang paling keras bisa jadi pemimpin
Untuk itu, diadakan orasi pengerasan kentut
Sehingga banyak kentut yang ikut memberi sumbangan kentut
Kata mereka biar lebih mak bruoottt
Ada yang membuat iklan, ada yang memberi kaos, ada yang memberi uang, ada yang memberi makan, ada yang memberi janji, ada yang memberi tai, eh.

Kentut ada dimana-mana

Sampai-sampai burung kebangsaan kami menutupi wajah dengan sayapnya, meringkuk
Bulunya dilucuti satu demi satu
Sementara bendera kami yang merah putih berubah menjadi warna kuning
Karena negeri kami mati
Negeri kami telah mati suri

Sebab kentut ada dimana-mana
Menjadi penjajah utama di tahun ke tujuh puluh dan seterusnya

Mari perkenalkan nama negeri kami, yaitu
Indone… broottt


Pasuruan, 15 Agustus 2015

Rabu, 16 September 2015

Yang Perlu Anda Jawab adalah

Kalau bukan karena benda menakjubkan diluar kendali kita, maka teori apa yang sanggup memecahkan permasalahan

         mengapa dadaku seolah bergetar ketika namamu sampai di telingaku ?

Senin, 14 September 2015

Trockenzeit*

Jatuh, dedaunan mencium kening sungai
Tubuhnya berkulit sawo matang mengucapkan perpisahan
Dan kicau burung bercuit-cuit memayungi rumah
Karena pagi ini matahari bertamu lebih dari hari-hari lain
Keringat mencumbu ketiak dan pori-pori dengan lebih mengecup
Di perbukitan, dahan memantapkan hati untuk kehilangan

                : ini akan jadi bulan yang panjang


Surabaya, 15 September 2015
*Musim Kemarau dalam Bahasa Jerman

sumber gambar: google

Sabtu, 12 September 2015

Ada Saman di Matamu*

Ada saman di matamu, masuk.
Serupa kelopak, layar terkembang mencuri cela-cela
di pupil, di lensa
Temaram jangkar menyangkut ibarat kepulangan yang lama dipanggil
Pula dayung-dayung retak, menuju bibir pantai: rindu
Karang dan kawanan ombak mengantar datang lewat pandangan diantara deru-deru hujan
Cita ialah sekantong jaring penuh ikan-ikanan dan kerang-kerangan
Sudah datang yang dinanti, kasih

Kaki telanjang, kepala telanjang, mata telanjang, tangan telanjang, perut telanjang, leher telanjang, hidung telanjang, hati telanjang, otak telanjang
Namun kau, laki-laki

Saman yang masuk di matamu itu,
menghisap sekumpulan asap rokok
yang dihirup nenek-nenek tua di ujung dermaga
Juga teh di pucuk senja pada sayup-sayup pohon kelapa
Kemarilah, ingin kucumbu keringatmu yang sebagian tertinggal di ujud samudera

membiru jadi air pasang di pagi hari



Pasuruan, 18 Juli 2015
*dimuat dalam Antologi Potret Langit, Oase Pustaka