Senin, 29 Juni 2015

Maaf

Kini aku mengetahui bahwa
Setiap kali aku mencoba meninggalkanmu
Aku tidak akan pernah siap untuk tidak mencintaimu

Berbicara Cinta



Surabaya, 27 Juni 2015
Ditulis dengan jantung berdebar

Selasa, 23 Juni 2015

Surat Kepada Ibu Mertua

Assalamualaikum, Buk
Semoga ibu selalu dalam lindungan terbaik-Nya
Perkenalkan, saya adalah perempuan yang kelak akan memberikan cucu kepada ibu
Cucu yang baik perangainya, seperti anak ibu, lelaki yang saya cintai
Anak lelaki ibu adalah lelaki yang sangat istimewa bagi saya
Maka dari itu, saya meminta doa dan restu ibu agar kami dapat selalu bersama
Tenang saja, saya tidak akan menggantikan posisi ibu sebagai perempuan yang paling dia kagumi
Saya tidak akan menyuruh anak ibu untuk melupakan ibu
Saya hanya ingin menjadi pendampingnya kelak

Buk,
Anak ibu berjanji untuk meminang saya empat tahun lagi
Kemudian kami akan menikah, menjadi pasangan yang bahagia
Saya akan membantu ibu menyiapkan makan di dapur
Juga membersihkan rumah ketika saya pulang dari kerja
Di sore harinya, saya akan melihat ibu menggendong anak saya dengan perasaan bahagia

Buk,
Kelak, suami ibu pun akan menjadi ayah bagi saya
Maka saya juga meminta izin agar bisa merawat beliau semampu saya
Juga memberikan perhatian terbaik saya
Tak ada yang harus tersisihkan, tak ada yang harus terlupakan

Buk,
Saya belum pandai memasak, maka saya akan belajar agar anak ibu dapat mencicipi masakan saya seraya berkata “masakan istriku sama enaknya dengan masakan ibuku”
Saya akan lebih banyak belajar dari ibu, anak ibu paling suka makan soto. Kita akan sering memasaknya.
Saya juga belum pandai merawat anak, maka dari itu ajari saya pula bagaimana memandikan cucu ibu dan hal-hal lainnya.

Buk,
Seandainya saya kelak berbuat salah, ingatkan saya tanpa ragu
Seperti yang saya bilang tadi, saya masih harus banyak belajar

Buk,
Setiap kali saya dintanya apakah saya siap menikah apa belum, saya selalu menjawab belum
Dan anak ibu yang selegit arum manis itu selalu tersenyum dan mengatakan bahwa sebenarnya saya sudah siap.
Saya hanya diam, kemudian dia akan berceloteh tentang pernikahan kami.
Dia akan bekerja sebagai guru, saya juga ingin menjadi guru

Buk,
Sudah sering kita bertemu, tapi kita tidak terlalu lama bercakap
Ketahuilah, bahwa saya adalah anak yang diam dan takut untuk memulai pembicaraan
Kadang saya memang takut bila yang saya lakukan tidak berkenan bagi ibu
Tapi anak ibu selalu menguatkan saya dengan segala ucapannya

Buk,
Ibu ingin cucu berapa nanti? Anak ibu menginginkan tiga anak
Anak pertama dan ketiga adalah laki-laki
Dan anak kedua adalah perempuan
Saya juga tidak habis pikir kenapa anak ibu bisa terpikir hingga seluas itu
Namun saya menyukai sifatnya yang seperti itu
Yang memikirkan kehidupannya di jangka luas, tidak seperti saya yang masih saja memikirkan hiburan disamping tugas kuliah yang menumpuk.

Buk,
Di samping saya, tugas-tugas s memang sudah menumpuk
Namun saya memilih menulis surat kepada ibu
Entah apa sebab musabahnya
Mungkin karena saya teringat wajah anak ibu

Buk,
Sekian surat dari saya
Mungkin ibu tidak akan membacanya, namun saya sudah merasa cukup bahagia telah menulisnya
Maaf jika ada perkataan yang membuat ibu terluka
Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa anak ibuk adalah lelaki yang istimewa dan terus menjadi istimewa. Saya mencintai saya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliknya. Dengan segala sifat-sifat yang ada pada dirinya. Saya benar-benar mencintai anak ibu.
Sekali lagi terimakasih
Semoga ibu sehat walafiat disana, kapan-kapan saya akan mampir ke rumah ibu lagi
Wassalamualaikum Wr.Wb

Dari calon anakmu,
Titin

Surabaya, 22 Juni 2015