Juara 1 lomba event foto Infinite Publisher
“Kapan kau akan mengecupku?
Secangkir kopi
melihatmu tajam. Tapi kau tak menyahutnya.
Gundukan kopi yang tak sempurna kau aduk mengisahkan pahit
yang sopan.
Membenamkan rasa manis yang kau analogikan sebagai
kebahagiaan.
Rasa terlalu panas menggeliat dan menggedor-gedor tutup
cangkir yang jadikan ia terpental, beberapa bertahan beberapa yang lain turun
dan tenggelam dalam cangkir dan merasakan panasnya sendiri.
Kau memilih tak mengecupnya
▪▪●▪▪
Sudah lima belas menit aku disini.
Menunggu. Nampaknya menunggu kali ini akan lebih menyenangkan, pikirku ringan.
Aku menempati meja no 28. Tidak ada yang istimewa dengan nomor ini, hanya saja
meja ini kebetulan berada di samping jendela yang jika kita tengok keluar akan
kita temui lampu-lampu jalan yang bertumpang tindih, untung saja mereka tidak
saling mengadu, pikirku kekikikan.
“Permisi, ada yang ingin dipesan?”
seorang pelayan lelaki yang masih muda, ramah bertanya kepadaku.
“Cappuccino panas.” jawabku sambil
tersenyum.
“Baik, mohon tunggu sebentar.”
Pelayan ramah itu kemudian berpaling
dan menyisahkan punggung yang bisa kulihat.
“Haaah” aku mendesah pelan.
Waktu berjalan, terhitung sudah dua
puluh menit aku menunggunya. Ia tak kunjung datang. Namun, sudah kubilang
menunggu kali ini akan menyenangkan jadi tidak perlu ada yang kurisaukan.
Baiklah, pernyataan ini memang seperti membingungkan. Bagaimana bisa menunggu
dapat sebegitu menyenangkan?. Pada dasarnya segala sesuatu di alam semesta
menyediakan dua sisi yang berbeda; hitam-putih, siang-malam, kurus-gemuk,
pahit-manis, kaya-miskin. Begitu pula hukum penjelasan, juga mempunyai dua
sisi, sisi yang perlu dijelaskan dan sisi yang tidak bisa dijelaskan. Sebagai
contoh orang bisa menjelaskan apa itu rumah, apa itu taman, apa itu jalan raya,
namun orang tidak bisa menjelaskan apa itu baik, apa itu cinta, apa itu nikmat,
sebab hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang omnibus yaitu sesuatu yang
mempunyai definisi yang sangat banyak dan tidak ada apapun atau sesuatu pun
yang bisa memberi doktrin tetap terhadap pengertian itu semua. Jadi agar
mempermudah, orang-orang menafsirkannya dengan makna yang paling dekat dengan kondisinya.
Contohnya saja orang yang patah hati mendifinisikan cinta dengan sebuah sakit
yang mendalam sementara orang jatuh cinta yang mendefinisikannya dengan
kebahagiaan yang paling menakjubkan. Begitu bukan? Namun tetap saja penjelasan
itu tidak bisa dijelaskan dengan utuh karena tidak ada yang mampu menjelaskan
secara kompleks, sama halnya dengan penungguanku kali ini.
“Permisi,
ini pesanan Anda”. Seorang pelayan yang berbeda dari pelayan pertama
membangunkan lamunanku tentang hukum penjelasan tersebut.
“Iya, terimakasih.” Jawabku dengan
nada sedikit kaget.
Aku memandang ke arah jendela,
sekumpulan angin menyentuh wajahku. Di langit, bintang-bintang mungkin sibuk
berdebat dengan siapa yang paling bersinar malam itu dan perdebatan itu selesai
seketika ketika mereka melihat bulan bertengger dengan gaun putih peraknya.
Mungkin saja, jika mereka bisa berbicara serupa manusia.
Kopi didepanku terlampau panas, jadi
aku biarkan saja agar panasnya tidak terlalu menekan. Sejak aku duduk di bangku
SMA, aku sangat suka dengan kopi apapun jenisnya. Kopi adalah penenang ketika
galau dengan segala macam urusan tugas dan serentetan masalah lainnya.
Kembali aku melihat ke arah luar.
Dari sini aku melihat mobil-mobil seperti semut yang membawa gula ke rumah
masing-masing. Pasti Roy berada di antara mereka.
Roy, lelaki berumur 24 tahun yang
aku kenal dua minggu yang lalu lewat pameran lukisan di kota Surabaya. Walaupun
dia tiga tahun berada diatas usiaku, dia melarangku untuk memanggil dengan
sebutan “Kak” atau “Bang” atau sejenisnya. Kami berkomunikasi dengan lancar
selepas pertemuan pertama itu dan akhirnya kami memutuskan untuk bertemu.
Ah, sudah empat puluh menit berlalu.
Belum ada tanda-tanda. Kopi yang kupesan mulai dingin. Aku letakkan telapak
tanganku di badan gelas. Hangat. Kemudian senyap.
Tiba-tiba ada yang mengetuk-ngetuk
dari dalam cangkir gelas. Aku terdiam. Kemudian terasa ketukan lagi. Lalu
kubuka tutup cangkir yang berwarna hijau temaram itu. Kuliat kopiku menjelma
Roy. Ia menggedor-gedorkan tangannya dalam cangkir. Dia sebesar telapak
tanganku oh mungkin lebih kecil. Tapi, hei apa yang dia lakukan atau lebih
tepatnya apa yang aku lakukan.
“Apa
yang kau lakukan?” aku bertanya.
“Tentu saja menemuimu.” Jawabnya
sambil tertawa.
Lucu juga melihat Roy dengan bentuk
seperti itu. Roy yang biasa kutemui adalah orang yang tinggi tegap berkulit
sawo matang dengan rambut gondrong sepundak yang biasa diikat. Namun sekarang
aku melihatnya seperti warga dari kerajaan liliput. Ah, aku baru tahu ternyata
kerajaan liliput menyediakan manusia dengan rasa cappuccino.
“Roy,
mengapa kau mengetuk tadi?”
“Karena aku ingin melihatmu hehe, ya
walaupun aku tahu itu membuatku habis lebih cepat.”
Aku mengerutkan dahi tanda tidak
paham
“Begini” Roy mulai menjelaskan
“Kopi panas dalam cangkir yang tidak
tertutup akan berkurang, panasnya akan keluar dan menjadi udara yang aromanya
dapat kita hirup. Sementara kopi yang tertutup tidak berkurang. Kenapa? Karena
panasnya menguap dan menjadi butiran-butiran air yang menempel pada tutupnya,
kemudian kembali jatuh kembali ke dalam kopi. Aku memilih tidak menutup
cangkirku, biar saja aku cepat habis. Toh, kodrat kopi memang untuk dihabiskan
cepat atau lambat. Itulah yang disebut keikhlasan terhadap takdir. Menerima
bahwa segala sesuatu akan habis dengan garis hidupnya sendiri.” Lanjutnya
dengan gaya berceramah.
Aku membalasnya dengan sebuah
anggukan pelan.
“Maaf ya, sudah menunggu lama.
Ternyata perlu waktu lama untuk datang kemari”
Aku tersenyum. Ya, aku selalu
tersenyum jika berada disampingnya. Terlebih ketika dia mengajakku berbicara
dengan logatnya yang khas. Tanpa kusadari, di luar hujan turun rintik-rintik
bebarengan dengan angin yang mulai jahil menggoyang-goyangkan pepohonan. Roy
menyuruhku menutup jendela, lalu aku turuti.
“Jaga kesehatan.” katanya.
Kemudian aku tersenyum untuk kedua
kalinya. Tiba-tiba aku usil menyenggolkan sendok ke dirinya, badannya menyipratkan
butir-butir cappucino sehingga menempel ke sisi yang lain. Hal ini aku lakukan
berulang sampai dia berlari kesana-kemari sambil tertawa dan berceloteh gemas.
Aku tertawa lebih lebar. Orang-orang di dalam kafe memandangku dengan aneh,
tapi aku tidak menggubris.
“Gulamu tidak diaduk rata, Roy.” aku
berkata seraya mengamati. Kemudian ia menjawab:
“Iya, memang kusisakan beberapa
untuk tidak menyatu dengan badanku. Dengan begitu, kau bisa memakan manis di
belakangan. Lagi pula, orang-orang tidak bisa mencampur adukkan manis dan pahit
dengan sempurna. Kau tahu mengapa? Karena mereka tergesa-gesa untuk segera
menghidangkannya. Begitu pula dengan adukan kopinya. Dasar manusia.”
Ah, mentang-mentang sekarang bukan
manusia dia mengejek seperti itu. Pikirku geli. Kami terdiam. Di luar, hujan
mengguyur lebih jelas. Seperti ada yang menangis begitu deras. Kafe sudah
hampir tutup. Kami tahu, tapi sama-sama diam.
“Kenapa kau tidak meminumku?. Kalau
dingin, tidak enak. Lihat disana hujan, harus ada sesuatu yang menghangatkan
perutmu yang kecil itu.”
“Bagaimana mungkin aku akan
meminummu, Roy?”
“Ah, sudah kubilang takdir kopi
adalah diminum. Jika tidak, bukan kopi namanya tapi gantungan tas.”
Aku tertawa lagi. Kini orang-orang
yang memandangiku sudah tidak ada. Mungkin sudah pulang karena sudah larut
malam seperti ini. Tiba-tiba ada pikiran yang merasuki otakku. Aku mulai
berpikir dan bertanya-tanya apa mungkin Roy dapat kubungkus dan kubawa pulang.
Sesampainya di rumah aku tak akan meminumnya. Kemudian kami akan berbincang di
teras taman atau kamar tidur sepanjang hari, minggu, bulan, tahun, hingga aku
menjadi nenek-nenek yang hampir mati. Ketika itu aku akan meminumnya. Dengan
begitu, kami akan mati bersama-sama. Pikiran itu berjubel di otakku dengan
sangat riuh.
“Aku ingin mengatakan sesuatu
kepadamu.” Suara Roy membuyarkan pikiranku.
“Iya Roy?”
“Ada sesuatu yang aneh ketika aku
melihatmu. Setelah kupahami, ternyata itu yang namanya cinta. Aku selalu
membayangkan aku berada di sampingmu, mengucapkan selamat pagi ketika kau
membuka mata dan selamat tidur ketika kau akan memejam, memelukmu ketika hujan
agar kau tidak kedinginan, lalu kita akan menikah dan menjadi pasangan paling
bahagia di alam semesta, memiliki anak-anak yang pintar dan cucu-cucu yang
manis perangainya. Aku ingin menjadi pedampingmu selamanya. Aku mencintaimu,
sangat mencintaimu. Aku ingin menjadi milikmu, dan kau jadi milikku. Selamanya.”
Aku tercengang, kemudian menangis.
Tangisanku seolah hujan yang berlari turun ke bumi. Aku menangis tanpa sebab,
yang aku tahu ketika itu: aku hanyan ingin menangis.
“Kau harus meminumku.” Katanya lagi
“Tidak bisa, Roy.” Jawabku sambil
terisak.
“Kau harus, kau harus meminumku!!.”
Desak Roy.
“Tidak bisa Roy, aku mencintaimu.
Aku tidak bisa.” Semakin aku sesenggukan.
“Minum aku!!! Segera minum aku!!!
Kau harus meminumku!!
“Tidak Royyy!!!” Aku berteriak.
Kemudian Roy menghilang. Kopi itu
menjelma bentuk semulanya. Roy hilang. Aku memanggil-manggil namanya dan
mencari ke segala sudut meja. Namun tak ada. Aku mendengar ada yang berdering
dari telepon genggamku. Rupanya pesan dari salah satu sahabat Roy. Tertulis :
“Roy meninggal setelah tertabrak truk
ketika ia keluar dari kantornya.”