Minggu, 20 Maret 2016

Lelaki dalam Cappuccino

LELAKI DALAM CAPPUCCINO
Juara 1 lomba event foto Infinite Publisher

“Kapan kau akan mengecupku?
 Secangkir kopi melihatmu tajam. Tapi kau tak menyahutnya.
Gundukan kopi yang tak sempurna kau aduk mengisahkan pahit yang sopan.
Membenamkan rasa manis yang kau analogikan sebagai kebahagiaan.
Rasa terlalu panas menggeliat dan menggedor-gedor tutup cangkir yang jadikan ia terpental, beberapa bertahan beberapa yang lain turun dan tenggelam dalam cangkir dan merasakan panasnya sendiri.
Kau memilih tak mengecupnya

▪▪●▪▪
            Sudah lima belas menit aku disini. Menunggu. Nampaknya menunggu kali ini akan lebih menyenangkan, pikirku ringan. Aku menempati meja no 28. Tidak ada yang istimewa dengan nomor ini, hanya saja meja ini kebetulan berada di samping jendela yang jika kita tengok keluar akan kita temui lampu-lampu jalan yang bertumpang tindih, untung saja mereka tidak saling mengadu, pikirku kekikikan.
            “Permisi, ada yang ingin dipesan?” seorang pelayan lelaki yang masih muda, ramah bertanya kepadaku.
            “Cappuccino panas.” jawabku sambil tersenyum.
            “Baik, mohon tunggu sebentar.”
            Pelayan ramah itu kemudian berpaling dan menyisahkan punggung yang bisa kulihat.
            “Haaah” aku mendesah pelan.
            Waktu berjalan, terhitung sudah dua puluh menit aku menunggunya. Ia tak kunjung datang. Namun, sudah kubilang menunggu kali ini akan menyenangkan jadi tidak perlu ada yang kurisaukan. Baiklah, pernyataan ini memang seperti membingungkan. Bagaimana bisa menunggu dapat sebegitu menyenangkan?. Pada dasarnya segala sesuatu di alam semesta menyediakan dua sisi yang berbeda; hitam-putih, siang-malam, kurus-gemuk, pahit-manis, kaya-miskin. Begitu pula hukum penjelasan, juga mempunyai dua sisi, sisi yang perlu dijelaskan dan sisi yang tidak bisa dijelaskan. Sebagai contoh orang bisa menjelaskan apa itu rumah, apa itu taman, apa itu jalan raya, namun orang tidak bisa menjelaskan apa itu baik, apa itu cinta, apa itu nikmat, sebab hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang omnibus yaitu sesuatu yang mempunyai definisi yang sangat banyak dan tidak ada apapun atau sesuatu pun yang bisa memberi doktrin tetap terhadap pengertian itu semua. Jadi agar mempermudah, orang-orang menafsirkannya dengan makna yang paling dekat dengan kondisinya. Contohnya saja orang yang patah hati mendifinisikan cinta dengan sebuah sakit yang mendalam sementara orang jatuh cinta yang mendefinisikannya dengan kebahagiaan yang paling menakjubkan. Begitu bukan? Namun tetap saja penjelasan itu tidak bisa dijelaskan dengan utuh karena tidak ada yang mampu menjelaskan secara kompleks, sama halnya dengan penungguanku kali ini.
            “Permisi, ini pesanan Anda”. Seorang pelayan yang berbeda dari pelayan pertama membangunkan lamunanku tentang hukum penjelasan tersebut.
            “Iya, terimakasih.” Jawabku dengan nada sedikit kaget.
            Aku memandang ke arah jendela, sekumpulan angin menyentuh wajahku. Di langit, bintang-bintang mungkin sibuk berdebat dengan siapa yang paling bersinar malam itu dan perdebatan itu selesai seketika ketika mereka melihat bulan bertengger dengan gaun putih peraknya. Mungkin saja, jika mereka bisa berbicara serupa manusia.
            Kopi didepanku terlampau panas, jadi aku biarkan saja agar panasnya tidak terlalu menekan. Sejak aku duduk di bangku SMA, aku sangat suka dengan kopi apapun jenisnya. Kopi adalah penenang ketika galau dengan segala macam urusan tugas dan serentetan masalah lainnya.
            Kembali aku melihat ke arah luar. Dari sini aku melihat mobil-mobil seperti semut yang membawa gula ke rumah masing-masing. Pasti Roy berada di antara mereka.
            Roy, lelaki berumur 24 tahun yang aku kenal dua minggu yang lalu lewat pameran lukisan di kota Surabaya. Walaupun dia tiga tahun berada diatas usiaku, dia melarangku untuk memanggil dengan sebutan “Kak” atau “Bang” atau sejenisnya. Kami berkomunikasi dengan lancar selepas pertemuan pertama itu dan akhirnya kami memutuskan untuk bertemu.
            Ah, sudah empat puluh menit berlalu. Belum ada tanda-tanda. Kopi yang kupesan mulai dingin. Aku letakkan telapak tanganku di badan gelas. Hangat. Kemudian senyap.
            Tiba-tiba ada yang mengetuk-ngetuk dari dalam cangkir gelas. Aku terdiam. Kemudian terasa ketukan lagi. Lalu kubuka tutup cangkir yang berwarna hijau temaram itu. Kuliat kopiku menjelma Roy. Ia menggedor-gedorkan tangannya dalam cangkir. Dia sebesar telapak tanganku oh mungkin lebih kecil. Tapi, hei apa yang dia lakukan atau lebih tepatnya apa yang aku lakukan.
“Apa yang kau lakukan?” aku bertanya.
            “Tentu saja menemuimu.” Jawabnya sambil tertawa.
            Lucu juga melihat Roy dengan bentuk seperti itu. Roy yang biasa kutemui adalah orang yang tinggi tegap berkulit sawo matang dengan rambut gondrong sepundak yang biasa diikat. Namun sekarang aku melihatnya seperti warga dari kerajaan liliput. Ah, aku baru tahu ternyata kerajaan liliput menyediakan manusia dengan rasa cappuccino.
“Roy, mengapa kau mengetuk tadi?”
            “Karena aku ingin melihatmu hehe, ya walaupun aku tahu itu membuatku habis lebih cepat.”
            Aku mengerutkan dahi tanda tidak paham
            “Begini” Roy mulai menjelaskan
            “Kopi panas dalam cangkir yang tidak tertutup akan berkurang, panasnya akan keluar dan menjadi udara yang aromanya dapat kita hirup. Sementara kopi yang tertutup tidak berkurang. Kenapa? Karena panasnya menguap dan menjadi butiran-butiran air yang menempel pada tutupnya, kemudian kembali jatuh kembali ke dalam kopi. Aku memilih tidak menutup cangkirku, biar saja aku cepat habis. Toh, kodrat kopi memang untuk dihabiskan cepat atau lambat. Itulah yang disebut keikhlasan terhadap takdir. Menerima bahwa segala sesuatu akan habis dengan garis hidupnya sendiri.” Lanjutnya dengan gaya berceramah.
            Aku membalasnya dengan sebuah anggukan pelan.
            “Maaf ya, sudah menunggu lama. Ternyata perlu waktu lama untuk datang kemari”
            Aku tersenyum. Ya, aku selalu tersenyum jika berada disampingnya. Terlebih ketika dia mengajakku berbicara dengan logatnya yang khas. Tanpa kusadari, di luar hujan turun rintik-rintik bebarengan dengan angin yang mulai jahil menggoyang-goyangkan pepohonan. Roy menyuruhku menutup jendela, lalu aku turuti.
            “Jaga kesehatan.” katanya.
            Kemudian aku tersenyum untuk kedua kalinya. Tiba-tiba aku usil menyenggolkan sendok ke dirinya, badannya menyipratkan butir-butir cappucino sehingga menempel ke sisi yang lain. Hal ini aku lakukan berulang sampai dia berlari kesana-kemari sambil tertawa dan berceloteh gemas. Aku tertawa lebih lebar. Orang-orang di dalam kafe memandangku dengan aneh, tapi aku tidak menggubris.
            “Gulamu tidak diaduk rata, Roy.” aku berkata seraya mengamati. Kemudian ia menjawab:
            “Iya, memang kusisakan beberapa untuk tidak menyatu dengan badanku. Dengan begitu, kau bisa memakan manis di belakangan. Lagi pula, orang-orang tidak bisa mencampur adukkan manis dan pahit dengan sempurna. Kau tahu mengapa? Karena mereka tergesa-gesa untuk segera menghidangkannya. Begitu pula dengan adukan kopinya. Dasar manusia.”
            Ah, mentang-mentang sekarang bukan manusia dia mengejek seperti itu. Pikirku geli. Kami terdiam. Di luar, hujan mengguyur lebih jelas. Seperti ada yang menangis begitu deras. Kafe sudah hampir tutup. Kami tahu, tapi sama-sama diam.
            “Kenapa kau tidak meminumku?. Kalau dingin, tidak enak. Lihat disana hujan, harus ada sesuatu yang menghangatkan perutmu yang kecil itu.”
            “Bagaimana mungkin aku akan meminummu, Roy?”
            “Ah, sudah kubilang takdir kopi adalah diminum. Jika tidak, bukan kopi namanya tapi gantungan tas.”
            Aku tertawa lagi. Kini orang-orang yang memandangiku sudah tidak ada. Mungkin sudah pulang karena sudah larut malam seperti ini. Tiba-tiba ada pikiran yang merasuki otakku. Aku mulai berpikir dan bertanya-tanya apa mungkin Roy dapat kubungkus dan kubawa pulang. Sesampainya di rumah aku tak akan meminumnya. Kemudian kami akan berbincang di teras taman atau kamar tidur sepanjang hari, minggu, bulan, tahun, hingga aku menjadi nenek-nenek yang hampir mati. Ketika itu aku akan meminumnya. Dengan begitu, kami akan mati bersama-sama. Pikiran itu berjubel di otakku dengan sangat riuh.
            “Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Suara Roy membuyarkan pikiranku.
            “Iya Roy?”
            “Ada sesuatu yang aneh ketika aku melihatmu. Setelah kupahami, ternyata itu yang namanya cinta. Aku selalu membayangkan aku berada di sampingmu, mengucapkan selamat pagi ketika kau membuka mata dan selamat tidur ketika kau akan memejam, memelukmu ketika hujan agar kau tidak kedinginan, lalu kita akan menikah dan menjadi pasangan paling bahagia di alam semesta, memiliki anak-anak yang pintar dan cucu-cucu yang manis perangainya. Aku ingin menjadi pedampingmu selamanya. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku ingin menjadi milikmu, dan kau jadi milikku. Selamanya.”
            Aku tercengang, kemudian menangis. Tangisanku seolah hujan yang berlari turun ke bumi. Aku menangis tanpa sebab, yang aku tahu ketika itu: aku hanyan ingin menangis.
            “Kau harus meminumku.” Katanya lagi
            “Tidak bisa, Roy.” Jawabku sambil terisak.
            “Kau harus, kau harus meminumku!!.” Desak Roy.
            “Tidak bisa Roy, aku mencintaimu. Aku tidak bisa.” Semakin aku sesenggukan.
            “Minum aku!!! Segera minum aku!!! Kau harus meminumku!!
            “Tidak Royyy!!!” Aku berteriak.
            Kemudian Roy menghilang. Kopi itu menjelma bentuk semulanya. Roy hilang. Aku memanggil-manggil namanya dan mencari ke segala sudut meja. Namun tak ada. Aku mendengar ada yang berdering dari telepon genggamku. Rupanya pesan dari salah satu sahabat Roy. Tertulis :
“Roy meninggal setelah tertabrak truk ketika ia keluar dari kantornya.”