Selasa, 21 Juli 2020

Gelap Gulita di Rabu Pagi

Di luar masih pagi, tapi gelap gulita ada di kepalamu.
Tidak ada yang bersinar, kecuali mata lelaki yang serupa rembulan.
Kerinduan adalah musim salju yang dingin.
Dan kita adalah kebekuan yang lain.

Kamis, 05 April 2018

ENTROK, OKKY MADASARI


ENTROK, OKKY MADASARI

Akan kukejar keadilan sampai ke mana pun. – Entrok, Okky Madasari



Sejak semester kemarin, saya disibukkan dengan proses membaca yang secara berulang saya lakukan terhadap beberapa novel Okky Madasari: Entrok, Maryam, dan Pasung Jiwa. Memang harus saya akui bahwasannya membaca dan menyelami pemikiran Okky Madasari yang dipenuhi oleh wacana-wacana kebebasan yang dituangkan melalui karya-karyanya menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan dan menyedihkan secara bersamaan. Saya telah membaca kelima novel Okky Madasari dan sedang dalam proses membaca satu-satunya kumpulan cerpennya, juga berusaha mengumpulkan uang untuk membeli buku terbarunya yang saya nanti-nantikan jauh sebelum ia diterbitkan: Mata di Tanah Melus.

Kesibukan membaca tiga novel Okky Madasari didasarkan karena ketiga novel tersebut saya jadikan objek skripsi dengan fokus pembahasan mengenai fungsi (fungsi yang dimaksudkan adalah unsur yang tetap) terkait kekerasan terhadap kaum marjinal. Kali ini secara khusus saya ingin membahas Entrok.
*
Entrok berkisah menggunakan dua pencerita yaitu tokoh Marni dan anaknya, Rahayu. Marni ialah seorang pribumi jawa penyembah leluhur yang buta huruf sementara Rahayu ialah perempuan terpelajar yang penganut islam yang taat. Saya rasa, sampai disini pembaca dapat memprediksi bagaimana konflik kedua tokoh yang kontradiktif tersebut. Pada halaman depan Okky Madasari menulis:
Untuk mereka yang menyimpan
Tuhan masing-masing
Dalam hatinya

Sehingga menurut hemat saya, Okky Madasari memang menekankan terhadap wilayah-wilayah keyakinan. Namun, yang menarik perhatian bukan wilayah-wilayah tersebut, melainkan kekerasan yang dialami oleh tokoh-tokoh yang saya sebut sebagai tokoh marjinal. Terdapat dua tokoh yang menarik perhatian saya yaitu Mehong dan Ndari. Keduanya membuat saya tidak berhenti mengernyitkan dahi sejak awal membayangkan kekerasan brutal yang mereka hadapi. Saya ngeri setengah mati.

Entrok adalah sebuah refleksi bagaimana militerisme pada zaman orde baru adalah sebuah bentuk penindasan terhadap masyarakat sipil yang disajikan melalui 8 babak dengan rentang waktu tahun 1950-1994. Segala bentuk kekerasan militerisme hadir dalam novel ini, mulai dari pemalakan, terror, intimidasi, pemenjaraan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan yang hampir semuanya dilakukan oleh tentara. Memang, dalam Entrok saya melihat bagaimana dominasi tentara yang sangat dogmatis.

Meskipun dalam pembacaan awal (saya baru membaca novel ini pada tahun 2015) saya merasa bosan dengan narasi penulis yang barangkali memang didasari oleh ketidaktertarikan saya terhadap politik dan sejarah (pada waktu itu), namun Entrok mampu menjerumuskan saya untuk terus tenggelam hingga halaman terakhir yang begitu membuat saya geram. Saya geram terhadap tokoh-tokoh dalam novel tersebut.

Surabaya, 5 April 2018

Minggu, 01 April 2018

The Old

I found my self at five.
She looked at me and said:

The world's too unfair as it always has. And you're the greatest hero to your own self as you always be.

I found my self at twenty-one.
She looked at me and said:

Use logic!

Senin, 22 Januari 2018

23/01/18

Kita berpijak di tanah yang sama,
dinaungi langit yang sama,
menghirup udara yang sama,

kenapa kita tidak bersama-sama membuat dunia menjadi lebih baik?



Jumat, 22 Desember 2017

DELAPAN BULAN

DELAPAN BULAN

hari jumat, persis seperti 8 bulan yang lalu,

kenangan melipat-lipatkan tubuhnya dan setiap hari kita membantu membukanya

ada saat kau membetulkan hasduk pramuka di seragamku pada hari Kamis puluhan tahun silam;
membuatkanku susu putih di hari Senin;
membelikanku roti cokelat pada 24 Oktober;
membenarkan tuts keyboard yang rusak,
mendidihkan air di waktu pulang sekolah;
memasakkan nasi goreng;
menjemput di terminal;


dan tersenyum di hari Jumat, 8 bulan yang lalu.

Minggu, 17 September 2017

yang terhormat

barangkali kalau ketemu saya akan menampar kamu

mère

saya sedang membayangkan menjadi seorang perempuan yang ditinggal wafat suami saya, 
saya janda dengan dua orang anak, satu laki-laki sudah bekerja, satu perempuan masih kuliah; kedua-duanya merantau di luar kota.

setiap hari saya di rumah sendiri, benar-benar sendiri.

dahulu, rumah ini begitu sempit dan hangat, penuh tawa dan terikan disana-sini. tapi sekarang tidak lagi, tidak ada kamar berantakan, tidak ada pakaian menumpuk di mesin cuci, tidak ada lagi yang saya bangunkan di pagi hari dan bersama-sama melihat acara di televisi di sore hari, rumah ini begitu sepi dan dingin. ubin-ubin menjadi lebih membeku dan udara terasa menusuk di paru-paru.

saya akan terisak di sepanjang malam, dan di hari-hari biasa saya akan lebih banyak melamun, mungkin kadang-kadang melihat beberapa album yang fotonya sudah kecokelatan dimakan jamur di sana-sini, melihat foto anak-anak di pesta ulang tahun dan beberapa lembar potret pernikahan saya dan almarhum suami saya, mungkin di satu waktu saya akan membuka almari dan menarik beberapa helai pakaian suami dan anak-anak saya jika rindu aroma mereka.

Di hari jumat, seteleh menyeterika baju yang hanya sedikit, saya akan membeli bunga dan pergi ke makam untuk memberseihkan pusara dari rumput-rumput yang tidak saya biarkan meninggi, di bawahnya sedang ada seorang laki-laki yang tertidur pulas.

Tidak, saya sama sekali tidak mengutuk Tuhan atas segala hal yang saya alami. Saya tahu Tuhan selalu memberi jalan yang terbaik, saya hanya perlu ikhlas.
Beberapa kali saya bercermin, rambut saya mulai banyak uban dan tersadar bahwa saya tidak lagi muda. Sebentar lagi anak-anak saya mungkin akan menikah, ada rasa sedih, tapi inlah yang terbaik, saya tidak boleh egois.

saya saya sedang membayangkan menjadi seorang perempuan yang ditinggal wafat suami saya, 
saya janda dengan dua orang anak, satu laki-laki sudah bekerja, satu perempuan masih kuliah; kedua-duanya merantau di luar kota,
tapi untuk membayangkannya saja saya tidak kuat.