Rabu, 12 Agustus 2015

Kisah Tuan dan Puan #2

Sore berembun. Puan sedang sibuk panen pelangi di kebun belakang rumah ketika ada layang-layang turun di hadapannya.

Di tempat ini, layang-layang dapat digunakan untuk berkirim surat selain burung gereja.

Puan berhenti sejenak, kemudian ia mengambil layang-layang tersebut. Ia menemukan bibit mawar dengan sebuah pesan singkat “Tanamlah bibit ini”.

Puan tersenyum dan bergegas menggali lubang kecil, kemudian dikuburnya bibit itu. Tak lama, bibit itu tumbuh tinggi sebesar rumah pohon. Puan masuk ke rumahnya dan keluar kembali sambil membawa tali yang digunakan untuk memanjat mawar raksasa itu.

Dengan sangat hati-hati Puan memanjat sambil berpegangan pada duri-durinya. Akhirnya sampai. Disana, ada sebuah ayunan yang dikaitkan di dua mahkota bunga. Ia duduk. Sambil mengamati kelopak merah yang harum mewangi.

Kemudian Puan menangis.

Ia tidak tahu alasan mengapa ia menangis. Yang ia tahu hanya ia sedang meradang rindu.
Disobeknya sedikit kelopak dan ia mulai menulis pesan.

“Terimakasih atas pemberianmu. Kuharap kita cukup tangguh untuk bertemu”


12 Agustus 2015
@agendandelion

Tidak ada komentar:

Posting Komentar