Sore berembun.
Puan sedang sibuk panen pelangi di kebun belakang rumah ketika ada
layang-layang turun di hadapannya.
Di tempat ini,
layang-layang dapat digunakan untuk berkirim surat selain burung gereja.
Puan berhenti
sejenak, kemudian ia mengambil layang-layang tersebut. Ia menemukan bibit mawar
dengan sebuah pesan singkat “Tanamlah
bibit ini”.
Puan tersenyum
dan bergegas menggali lubang kecil, kemudian dikuburnya bibit itu. Tak lama,
bibit itu tumbuh tinggi sebesar rumah pohon. Puan masuk ke rumahnya dan keluar
kembali sambil membawa tali yang digunakan untuk memanjat mawar raksasa itu.
Dengan sangat hati-hati Puan memanjat sambil berpegangan pada duri-durinya. Akhirnya sampai.
Disana, ada sebuah ayunan yang dikaitkan di dua mahkota bunga. Ia duduk. Sambil
mengamati kelopak merah yang harum mewangi.
Kemudian Puan
menangis.
Ia tidak tahu
alasan mengapa ia menangis. Yang ia tahu hanya ia sedang meradang rindu.
Disobeknya
sedikit kelopak dan ia mulai menulis pesan.
“Terimakasih
atas pemberianmu. Kuharap kita cukup tangguh untuk bertemu”
12 Agustus 2015
@agendandelion
Tidak ada komentar:
Posting Komentar