Jumat, 16 Desember 2016

Minggu, 13 November 2016

MENYEPI

Lebih baik kita menyepi dulu, dari lalu-lalang kalimat yang riuh
Kau boleh sembunyi di bawah kelopak bunga sepatu atau lemari pakaian ibumu
 : atau dimana saja


Sby, 13 November 2016

Minggu, 22 Mei 2016

RUMAH ASAP

Sepuluh besar puisi terbaik Lomba penulisan Puisi Festival Sastra UGM tingkat nasional 2016

RUMAH ASAP
Untuk Ayah Ros, dengan segala kerendahan hati

Seribu tubuh berapi meledak di tujuh mata angin; memecah sejuta ubun-ubun.
Seorang laki-laki melempar jangkar panas, bocah lelaki membuat panah batubara dan menusukkan   kepada jejantung.
Di langit-langit, neon berdebum membelah matahari terbit dan membaginya di atas pemakaman.
Pintu menanggalkan pakaian, iblis mengetuk sambil berbisik “sejauh apapun berlayar, sampanmu akan karam”. Ia lupa bahwa mereka keserupan sebelum ia datang.

Tik tok tik tok tik tok
Jam dinding berdetak kesemutan, bugenvil terbatuk masuk angin.
            ; tapi terlanjur membara.
Dalam-dalam sepanjang jalan dipenuhi arang hitam melegam, kaki telanjang terbirit belum sempat dicuci. Menjemput si jabang bayi yang lahir dari lumbung padi.
Tik tok tik tok tik tok
Jantung mengigil, sudah tua katanya, dan mata mulai mengatup.
            ; tapi terlanjur membabi buta.

Sebuah rumah mengasap mengebul meluruhkan karang-karang jantung di sudut kota, meniup hembus karat-karat pagar bangunan bermata tiga. Bebatuan meletup jadi kembang mengapi.
Dan nafas sebentuk narasi bibir jurang seketika terbenam dalam sebongkah mesiu. Ah!
Jasad-jasad menembang mewangi.
            ; kidung belati
Seribu tubuh berapi merajai di tujuh mata angin; mencakar berjuta-juta ubun-ubun.
Seorang laki-laki sedang melempar mantra. Anak-anak membuat tembikar dari lempengan waluku utara.
Rumah mengasap membumbung sampai tulang nadi remuk mengabu, menghujam ke mata-mata retak.
            ; mata yang mengapak


Pasuruan, 10 April 2015

Jumat, 13 Mei 2016

Kisah Tuan dan Puan #3

Kisah Tuan dan Puan #3

Cokelat

“Nanti, kau akan kupetikkan apel yang paling merah”
Puan membaca pesan itu. Lalu tertawa sendiri.
Di dekat perapian, sebuah cokelat panas memanggil namanya.
Ia mendekat. Kemudian mereka berbincang.
“Apa kau suka aku? Maksudku, suka cokelat?” kata Sang Cokelat
“Ya tentu saja”.  Jawab Puan
“Kalau Tuan-mu apakah juga suka aku?”
“Tentu tidak, dia menyukaiku.”
Lalu Puan meminum cokelat tersebut sambil tersenyum sendiri.

12 November 2015

Rabu, 11 Mei 2016

SURAH LANGIT

SURAH LANGIT I
S.

Langit menelan kunang-kunang di sela-sela semak belukar, mengembara sampai remang menghitam.
Diantara butir-butir angin yang bugil, ada doa yang mencari celah untuk lewat, barangkali matamu ikut meninggalkan jejak-jejak.
Lalu gemerisik daun gugur, oh kasih. Adakah itu kau?
Sewaktu di hutan yang redup; senjakala itu. Kau pergi sejenak dan kutanggalkan janji-janji.
Sehingga aku sampai disini, bunga dengan kelopak melayu.
Ingin kusiram dengan ranu di bawah telapak kakimu, tapi disini hanya ada bebatuan yang tumpul.
Rama, sudikah kiranya kau datang, tanyaku pada rembulan yang tertinggal di langit.
Tak ada jawab; hanya ronanya yang berlarian.
Tunjukkan apa yang lebih perih ketimbang perpisahan.
Dalam cangkang nun di belakang, seorang manusia setengah singa duduk menunggu
            ; datang dan berserah tubuh
Surah-surah langit berkumandang, meluncur di atas ranting melati.
Kujawab dengan doa yang tidak lebih lirih



SURAH LANGIT II
R.

Apa lagi yang kurang? Jejamuan atau ranjang peraduan.
Sudah kuberikan bahkan jejantung dan peparuku.
Kicau burung yang hampir setiap hari mencumbu bingkai kamarmu terus meracau, dan kau tidak berhenti menyeka ngilu pada kedua rahang dan sel tubuhmu.
Shinta, tiadalah niat untuk mengoyak kudusmu yang meretak.
Kau meregang perlahan
Hati-hati kutafsirkan diriku sebagai siluman berhati setan, batinmu aku jua tahu.
Tetapi, gelombang airku. Aku sudah tertancap. Dan tak kubiarkan melepas dengan maksudmu sendiri. Meski sudah terkelupas dengan genas selembar demi selembar.
Surah-surah langit bergema, bersila di atas ranting melati.
Kujawab dengan harapan yang tidak akan lirih.

Jumat, 29 April 2016

DONGENG SASMITA

DONGENG SASMITA
Untuk Ibuk, yang aku cintai

Sasmita ialah hujan dengan serat jingga, kelopak yang mekar dalam Oktober yang gegabah,
Sasmita ialah angin pegunungan, serat yang membumbung diantara lumbung padi yang menatap bayang-bayang,
Mungkin engkau mengenali sapuan gerimis dalam kepak burung camar serta jantung-jantung bunga matahari yang mengetuk pintu halaman rumahmu.
Seolah langit berjalan mundur kemudian bertamu dengan isi perut. Usus besar lirih mengadu, sebiji telur tersenyum manis. Semanis remah-remah awan, semanis bebulir kapas.
Sasmita ialah desahan daun di pematang sawah, anak domba merebah sambil menguncupkan bulu-bulunya yang berkilau, namanya gelombang atau arus sungai, perkenalkan.
Gemuruh kaki lebih wangi bertandang, tungku berjajar rapi menjaga matahari yang hampir menyibakkan gorden.
Diamlah sebuah mata yang memindai doa
            ; terhanyut dalam lautan gelagah.

Minggu, 20 Maret 2016

Lelaki dalam Cappuccino

LELAKI DALAM CAPPUCCINO
Juara 1 lomba event foto Infinite Publisher

“Kapan kau akan mengecupku?
 Secangkir kopi melihatmu tajam. Tapi kau tak menyahutnya.
Gundukan kopi yang tak sempurna kau aduk mengisahkan pahit yang sopan.
Membenamkan rasa manis yang kau analogikan sebagai kebahagiaan.
Rasa terlalu panas menggeliat dan menggedor-gedor tutup cangkir yang jadikan ia terpental, beberapa bertahan beberapa yang lain turun dan tenggelam dalam cangkir dan merasakan panasnya sendiri.
Kau memilih tak mengecupnya

▪▪●▪▪
            Sudah lima belas menit aku disini. Menunggu. Nampaknya menunggu kali ini akan lebih menyenangkan, pikirku ringan. Aku menempati meja no 28. Tidak ada yang istimewa dengan nomor ini, hanya saja meja ini kebetulan berada di samping jendela yang jika kita tengok keluar akan kita temui lampu-lampu jalan yang bertumpang tindih, untung saja mereka tidak saling mengadu, pikirku kekikikan.
            “Permisi, ada yang ingin dipesan?” seorang pelayan lelaki yang masih muda, ramah bertanya kepadaku.
            “Cappuccino panas.” jawabku sambil tersenyum.
            “Baik, mohon tunggu sebentar.”
            Pelayan ramah itu kemudian berpaling dan menyisahkan punggung yang bisa kulihat.
            “Haaah” aku mendesah pelan.
            Waktu berjalan, terhitung sudah dua puluh menit aku menunggunya. Ia tak kunjung datang. Namun, sudah kubilang menunggu kali ini akan menyenangkan jadi tidak perlu ada yang kurisaukan. Baiklah, pernyataan ini memang seperti membingungkan. Bagaimana bisa menunggu dapat sebegitu menyenangkan?. Pada dasarnya segala sesuatu di alam semesta menyediakan dua sisi yang berbeda; hitam-putih, siang-malam, kurus-gemuk, pahit-manis, kaya-miskin. Begitu pula hukum penjelasan, juga mempunyai dua sisi, sisi yang perlu dijelaskan dan sisi yang tidak bisa dijelaskan. Sebagai contoh orang bisa menjelaskan apa itu rumah, apa itu taman, apa itu jalan raya, namun orang tidak bisa menjelaskan apa itu baik, apa itu cinta, apa itu nikmat, sebab hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang omnibus yaitu sesuatu yang mempunyai definisi yang sangat banyak dan tidak ada apapun atau sesuatu pun yang bisa memberi doktrin tetap terhadap pengertian itu semua. Jadi agar mempermudah, orang-orang menafsirkannya dengan makna yang paling dekat dengan kondisinya. Contohnya saja orang yang patah hati mendifinisikan cinta dengan sebuah sakit yang mendalam sementara orang jatuh cinta yang mendefinisikannya dengan kebahagiaan yang paling menakjubkan. Begitu bukan? Namun tetap saja penjelasan itu tidak bisa dijelaskan dengan utuh karena tidak ada yang mampu menjelaskan secara kompleks, sama halnya dengan penungguanku kali ini.
            “Permisi, ini pesanan Anda”. Seorang pelayan yang berbeda dari pelayan pertama membangunkan lamunanku tentang hukum penjelasan tersebut.
            “Iya, terimakasih.” Jawabku dengan nada sedikit kaget.
            Aku memandang ke arah jendela, sekumpulan angin menyentuh wajahku. Di langit, bintang-bintang mungkin sibuk berdebat dengan siapa yang paling bersinar malam itu dan perdebatan itu selesai seketika ketika mereka melihat bulan bertengger dengan gaun putih peraknya. Mungkin saja, jika mereka bisa berbicara serupa manusia.
            Kopi didepanku terlampau panas, jadi aku biarkan saja agar panasnya tidak terlalu menekan. Sejak aku duduk di bangku SMA, aku sangat suka dengan kopi apapun jenisnya. Kopi adalah penenang ketika galau dengan segala macam urusan tugas dan serentetan masalah lainnya.
            Kembali aku melihat ke arah luar. Dari sini aku melihat mobil-mobil seperti semut yang membawa gula ke rumah masing-masing. Pasti Roy berada di antara mereka.
            Roy, lelaki berumur 24 tahun yang aku kenal dua minggu yang lalu lewat pameran lukisan di kota Surabaya. Walaupun dia tiga tahun berada diatas usiaku, dia melarangku untuk memanggil dengan sebutan “Kak” atau “Bang” atau sejenisnya. Kami berkomunikasi dengan lancar selepas pertemuan pertama itu dan akhirnya kami memutuskan untuk bertemu.
            Ah, sudah empat puluh menit berlalu. Belum ada tanda-tanda. Kopi yang kupesan mulai dingin. Aku letakkan telapak tanganku di badan gelas. Hangat. Kemudian senyap.
            Tiba-tiba ada yang mengetuk-ngetuk dari dalam cangkir gelas. Aku terdiam. Kemudian terasa ketukan lagi. Lalu kubuka tutup cangkir yang berwarna hijau temaram itu. Kuliat kopiku menjelma Roy. Ia menggedor-gedorkan tangannya dalam cangkir. Dia sebesar telapak tanganku oh mungkin lebih kecil. Tapi, hei apa yang dia lakukan atau lebih tepatnya apa yang aku lakukan.
“Apa yang kau lakukan?” aku bertanya.
            “Tentu saja menemuimu.” Jawabnya sambil tertawa.
            Lucu juga melihat Roy dengan bentuk seperti itu. Roy yang biasa kutemui adalah orang yang tinggi tegap berkulit sawo matang dengan rambut gondrong sepundak yang biasa diikat. Namun sekarang aku melihatnya seperti warga dari kerajaan liliput. Ah, aku baru tahu ternyata kerajaan liliput menyediakan manusia dengan rasa cappuccino.
“Roy, mengapa kau mengetuk tadi?”
            “Karena aku ingin melihatmu hehe, ya walaupun aku tahu itu membuatku habis lebih cepat.”
            Aku mengerutkan dahi tanda tidak paham
            “Begini” Roy mulai menjelaskan
            “Kopi panas dalam cangkir yang tidak tertutup akan berkurang, panasnya akan keluar dan menjadi udara yang aromanya dapat kita hirup. Sementara kopi yang tertutup tidak berkurang. Kenapa? Karena panasnya menguap dan menjadi butiran-butiran air yang menempel pada tutupnya, kemudian kembali jatuh kembali ke dalam kopi. Aku memilih tidak menutup cangkirku, biar saja aku cepat habis. Toh, kodrat kopi memang untuk dihabiskan cepat atau lambat. Itulah yang disebut keikhlasan terhadap takdir. Menerima bahwa segala sesuatu akan habis dengan garis hidupnya sendiri.” Lanjutnya dengan gaya berceramah.
            Aku membalasnya dengan sebuah anggukan pelan.
            “Maaf ya, sudah menunggu lama. Ternyata perlu waktu lama untuk datang kemari”
            Aku tersenyum. Ya, aku selalu tersenyum jika berada disampingnya. Terlebih ketika dia mengajakku berbicara dengan logatnya yang khas. Tanpa kusadari, di luar hujan turun rintik-rintik bebarengan dengan angin yang mulai jahil menggoyang-goyangkan pepohonan. Roy menyuruhku menutup jendela, lalu aku turuti.
            “Jaga kesehatan.” katanya.
            Kemudian aku tersenyum untuk kedua kalinya. Tiba-tiba aku usil menyenggolkan sendok ke dirinya, badannya menyipratkan butir-butir cappucino sehingga menempel ke sisi yang lain. Hal ini aku lakukan berulang sampai dia berlari kesana-kemari sambil tertawa dan berceloteh gemas. Aku tertawa lebih lebar. Orang-orang di dalam kafe memandangku dengan aneh, tapi aku tidak menggubris.
            “Gulamu tidak diaduk rata, Roy.” aku berkata seraya mengamati. Kemudian ia menjawab:
            “Iya, memang kusisakan beberapa untuk tidak menyatu dengan badanku. Dengan begitu, kau bisa memakan manis di belakangan. Lagi pula, orang-orang tidak bisa mencampur adukkan manis dan pahit dengan sempurna. Kau tahu mengapa? Karena mereka tergesa-gesa untuk segera menghidangkannya. Begitu pula dengan adukan kopinya. Dasar manusia.”
            Ah, mentang-mentang sekarang bukan manusia dia mengejek seperti itu. Pikirku geli. Kami terdiam. Di luar, hujan mengguyur lebih jelas. Seperti ada yang menangis begitu deras. Kafe sudah hampir tutup. Kami tahu, tapi sama-sama diam.
            “Kenapa kau tidak meminumku?. Kalau dingin, tidak enak. Lihat disana hujan, harus ada sesuatu yang menghangatkan perutmu yang kecil itu.”
            “Bagaimana mungkin aku akan meminummu, Roy?”
            “Ah, sudah kubilang takdir kopi adalah diminum. Jika tidak, bukan kopi namanya tapi gantungan tas.”
            Aku tertawa lagi. Kini orang-orang yang memandangiku sudah tidak ada. Mungkin sudah pulang karena sudah larut malam seperti ini. Tiba-tiba ada pikiran yang merasuki otakku. Aku mulai berpikir dan bertanya-tanya apa mungkin Roy dapat kubungkus dan kubawa pulang. Sesampainya di rumah aku tak akan meminumnya. Kemudian kami akan berbincang di teras taman atau kamar tidur sepanjang hari, minggu, bulan, tahun, hingga aku menjadi nenek-nenek yang hampir mati. Ketika itu aku akan meminumnya. Dengan begitu, kami akan mati bersama-sama. Pikiran itu berjubel di otakku dengan sangat riuh.
            “Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Suara Roy membuyarkan pikiranku.
            “Iya Roy?”
            “Ada sesuatu yang aneh ketika aku melihatmu. Setelah kupahami, ternyata itu yang namanya cinta. Aku selalu membayangkan aku berada di sampingmu, mengucapkan selamat pagi ketika kau membuka mata dan selamat tidur ketika kau akan memejam, memelukmu ketika hujan agar kau tidak kedinginan, lalu kita akan menikah dan menjadi pasangan paling bahagia di alam semesta, memiliki anak-anak yang pintar dan cucu-cucu yang manis perangainya. Aku ingin menjadi pedampingmu selamanya. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku ingin menjadi milikmu, dan kau jadi milikku. Selamanya.”
            Aku tercengang, kemudian menangis. Tangisanku seolah hujan yang berlari turun ke bumi. Aku menangis tanpa sebab, yang aku tahu ketika itu: aku hanyan ingin menangis.
            “Kau harus meminumku.” Katanya lagi
            “Tidak bisa, Roy.” Jawabku sambil terisak.
            “Kau harus, kau harus meminumku!!.” Desak Roy.
            “Tidak bisa Roy, aku mencintaimu. Aku tidak bisa.” Semakin aku sesenggukan.
            “Minum aku!!! Segera minum aku!!! Kau harus meminumku!!
            “Tidak Royyy!!!” Aku berteriak.
            Kemudian Roy menghilang. Kopi itu menjelma bentuk semulanya. Roy hilang. Aku memanggil-manggil namanya dan mencari ke segala sudut meja. Namun tak ada. Aku mendengar ada yang berdering dari telepon genggamku. Rupanya pesan dari salah satu sahabat Roy. Tertulis :
“Roy meninggal setelah tertabrak truk ketika ia keluar dari kantornya.”

Jumat, 08 Januari 2016

Jari Manis

Aku bermimpi menjadi perempuan yang menyapu halaman rumahmu setiap hari
dan menunggumu pulang kerja kemudian melepas sepatumu, juga membuatkan teh hangat.

Aku juga bermimpi membersihkankan tempat tidurmu dan mengusap keningmu setelah kau terjaga, dan membetulkan kerah kemejamu sebelum berangkat pergi.

Ketika hujan, kusiapkan mantel biru di jok motormu. Hari senin-sabtu kusiapkan air mineral dan nasi untuk perbekalanmu. Dan di hari minggu aku akan menyeterika, mencuci baju, mengepel, membersihkan rak-rak buku, sementara kau bermain dengan anak-anak.
Setiap hari akan menyenangkan, mungkin jauh lebih menyenangkan dari yang kukira

Setelah hari itu, ketika kau datang ke ayah dan menyatakan ingin aku menyempurnakan rusukmu, dan ayah bertanya kepadaku lalu aku pun mengiyakan, matamu berbinar, mataku berbinar.
Lalu di pernikahan aku menangis, mungkin kau juga.
Setelah hari itu, kita akan berjanji untuk bahagia selamanya hingga kakek-nenek dan maut yang memberi kita jarak.


Kumohon jangan baca ini ya, soalnya memalukan
9 Januari 2016