Kamis, 05 April 2018

ENTROK, OKKY MADASARI


ENTROK, OKKY MADASARI

Akan kukejar keadilan sampai ke mana pun. – Entrok, Okky Madasari



Sejak semester kemarin, saya disibukkan dengan proses membaca yang secara berulang saya lakukan terhadap beberapa novel Okky Madasari: Entrok, Maryam, dan Pasung Jiwa. Memang harus saya akui bahwasannya membaca dan menyelami pemikiran Okky Madasari yang dipenuhi oleh wacana-wacana kebebasan yang dituangkan melalui karya-karyanya menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan dan menyedihkan secara bersamaan. Saya telah membaca kelima novel Okky Madasari dan sedang dalam proses membaca satu-satunya kumpulan cerpennya, juga berusaha mengumpulkan uang untuk membeli buku terbarunya yang saya nanti-nantikan jauh sebelum ia diterbitkan: Mata di Tanah Melus.

Kesibukan membaca tiga novel Okky Madasari didasarkan karena ketiga novel tersebut saya jadikan objek skripsi dengan fokus pembahasan mengenai fungsi (fungsi yang dimaksudkan adalah unsur yang tetap) terkait kekerasan terhadap kaum marjinal. Kali ini secara khusus saya ingin membahas Entrok.
*
Entrok berkisah menggunakan dua pencerita yaitu tokoh Marni dan anaknya, Rahayu. Marni ialah seorang pribumi jawa penyembah leluhur yang buta huruf sementara Rahayu ialah perempuan terpelajar yang penganut islam yang taat. Saya rasa, sampai disini pembaca dapat memprediksi bagaimana konflik kedua tokoh yang kontradiktif tersebut. Pada halaman depan Okky Madasari menulis:
Untuk mereka yang menyimpan
Tuhan masing-masing
Dalam hatinya

Sehingga menurut hemat saya, Okky Madasari memang menekankan terhadap wilayah-wilayah keyakinan. Namun, yang menarik perhatian bukan wilayah-wilayah tersebut, melainkan kekerasan yang dialami oleh tokoh-tokoh yang saya sebut sebagai tokoh marjinal. Terdapat dua tokoh yang menarik perhatian saya yaitu Mehong dan Ndari. Keduanya membuat saya tidak berhenti mengernyitkan dahi sejak awal membayangkan kekerasan brutal yang mereka hadapi. Saya ngeri setengah mati.

Entrok adalah sebuah refleksi bagaimana militerisme pada zaman orde baru adalah sebuah bentuk penindasan terhadap masyarakat sipil yang disajikan melalui 8 babak dengan rentang waktu tahun 1950-1994. Segala bentuk kekerasan militerisme hadir dalam novel ini, mulai dari pemalakan, terror, intimidasi, pemenjaraan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan yang hampir semuanya dilakukan oleh tentara. Memang, dalam Entrok saya melihat bagaimana dominasi tentara yang sangat dogmatis.

Meskipun dalam pembacaan awal (saya baru membaca novel ini pada tahun 2015) saya merasa bosan dengan narasi penulis yang barangkali memang didasari oleh ketidaktertarikan saya terhadap politik dan sejarah (pada waktu itu), namun Entrok mampu menjerumuskan saya untuk terus tenggelam hingga halaman terakhir yang begitu membuat saya geram. Saya geram terhadap tokoh-tokoh dalam novel tersebut.

Surabaya, 5 April 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar