BURUNG-BURUNG DI TUBUH MELATI
Suatu
pagi di penghujung bulan Januari, sewaktu hujan turun sederas-derasnya dan
adzan ashar terdengar sayup-sayup, seorang bocah perempuan berumur 6 tahun
sedang asyik berbincang dengan burung-burung di dalam tubuhnya.
“Kalau
kalian berkaki empat dan memiliki puting susu, apa mungkin kalian masih bisa
disebut sebagai burung?” Tanyanya pada burung-burung di dalam tubuhnya.
“Atau
kalau saumpama kalian punya belalang seperti gajah, apa bisa kalian tetap
disebut sebagai burung?”
Tidak
ada jawaban.
“Sebenarnya
apa sih yang disebut dengan burung?
Apa yang bisa terbang? Bagaimana dengan burung merak? Apa yang punya paruh?
Lalu bagaimana pinguin?”
Pertanyaan-pertanyaan
itu memutari otaknya nyaris sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang waktu.
Hujan berangsur ringan, suara adzan sudah lenyap berganti dengan suara
anak-anak membaca kitab di Mushollah.
Melati,
anak perempuan yang memelihara banyak burung dalam tubuhnya. Saban hari ia
memberi makan burung-burungnya dengan jagung muda yang tidak ia beli di pasar,
juga bukan di warung-warung. Ia memetiknya langsung dari ladang jagung yang ia
tanam sendiri, juga di tubuhnya.
Ibunya,
Maryam, adalah perempuan berusia sekitar 40-an yang bekerja sebagai tukang
pijat. Selalu saja ada orang yang datang ke rumah untuk dipijat, mulai dari
kaki, tangan, kepala, punggung, perut, hingga bagian-bagian lain. Bagi Melati,
ibunya tak lebih istimewa dari burung-burung yang ia punya.
Melati
tidak menyukai ibunya dari sisi mana pun, bahkan untuk menyukai sehelai
rambutnya pun najis. Maryam suka memukul Melati menggunakan rotan, melemparnya
dengan kursi, menyiramnya dengan air comberan, bahkan menguncinya dalam kamar
mandi seharian tanpa diberi makan.
“Dengar
ya! Jika kamu terus memelihara burung-burung dalam tubuhmu, lama-lama mereka
akan memakan seluruh anggota tubuhmu tanpa tersisa. Jantungmu, ususmu,
ginjalmu, ototmu, bahkan tulang-tulangmu akan dimakan habis!”
“Tapi
kan burung tidak makan manusia.”
“Dasar
anak congok! Persis kayak bapaknya
yang suka main burung. Kamu pikir siapa yang membunuh ibu seperti ini kalau
bukan burungnya bapakmu! Semua laki-laki juga suka main burung. Brengsek!”
Umpatnya.
Melati
melongo, tidak mengerti apa yang dikatakan ibunya. Tapi satu yang ia tahu: ia
dan bapaknya sama-sama punya satu kesamaan, sama-sama suka bermain dengan burung.
Juga laki-laki lainnya.
Kamar pijat Maryam berada di ujung rumah dekat
dengan dapur. Jika Melati menuju dapur, selalu saja terdengar suara-suara aneh
dari kamar pijat ibunya. Suara yang sangat menjijikkan. Suatu ketika karena
penasaran ia intip pintu kamar ibunya melalui lubang kunci. Ia melihat ibunya
telanjang, bersama laki-laki pelanggan pijat—yang juga telanjang, mereka saling
menindih. Ternyata begitu ya cara mijat. Melati
pergi menuju dapur.
Suatu
sore ketika langit serupa jeruk dan awan jingga kemerahan, Melati bermain-main
dengan burung-burung di tubuhnya, tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk.
Melati mengintip melalui jendela. Dilihatnya seorang lelaki menggunakan kemeja
biru tua, celana kain cokelat, dan membawa tas yang terlihat masih baru, juga
mengenakan sepatu pantofel merah pekat. Tidak ada siapa pun di rumah, ibunya
baru saja pergi untuk membeli gula di warung seberang jalan. Akhirnya Melati
membuka pintunya, perlahan.
“Mau
cari ibu ya Om?” Kata Melati.
“Iya.
Ibunya ada?”
“Ibu
masih keluar, Om.”
“Eh,
iya.”
“Ya
sudah om masuk dulu om. Tunggu di dalam. Sebentar lagi ibu juga datang.”
Melati
mempersilahkan laki-laki itu duduk di ruang tamu. Ia dan laki-laki tersebut
duduk berseberangan. Lima menit berselang, Maryam belum juga datang.
“Om
juga suka main burung?” Melati bertanya.
“Hah?”
Laki-laki tersebut mendadak bingung.
“Iya,
Om. Kata ibu semua laki-laki suka main burung. Aku juga suka kok main sama
burung, Om.”
Laki-laki
itu kemudian tertawa. Tertawa terpingkal-pingkal, lama sekali. Melati menjadi
lebih bingung lagi.
Tak
lama berselang, terdengar seseorang membuka pintu. Maryam datang dengan di
tangan kanannya membawa kantong keresek hitam.
“Eh,
ada Mas Burhan. Sudah nunggu lama, Mas?”
“Emm,
nggak juga kok, Yam.” Burhan menahan
tawa.
“Emm,
anu, Yam. Tadinya aku mau mijetin anakku kesini, tapi kayanya nggak jadi deh.”
“Lho
kenapa, Mas?”
“Yam,
Yam, kamu itu ya, kalau mau kentu
atau melacurkan diri ya nggak
apa-apa. Silahkan. Tapi ya jangan ajarkan ke anakmu. Nggak bagus. Masak ya kamu ngajarin dia mainin burung. Hahaha.
Yam, Yam. Sudah ya aku pamit dulu. Assalamualaikum.”
Laki-laki
itu mengambil tasnya dan berdiri. Sebelum keluar, ia sempatkan untuk
mengusap-usap kepala Melati. Melati memandangi laki-laki itu sampai ia membuka
pintu, mengenakan sepatu, dan menoleh terakhir kali kepadanya. Lalu ia
menghilang. Tatapannya beralih ke arah ibunya. Sekejap ia merasakan ada yang
melayang keras ke pipinya. Sebuah tamparan.
“Puas
kamu mempermalukan ibuk? Anak goblok!
Brengsek.”
Plaaaak.
Sebuah tamparan lagi.
Melati
tertunduk. Tidak, kali ini ia sama sekali tidak menangis. Kedua tangannya
menggenggam erat. Sudah berkali-kali ia disiksa tanpa tahu kesalahan apa yang
ia lakukan. Ia tidak lagi bisa menangis.
Ibunya
mengambil lengannya dengan kasar dan menyeretnya ke dalam kamar. Dihempaskan
tubuh gadis itu sampai tebentur dipan kasur. Ah!. Melati berteriak ringan .
“Kamu
tidak boleh keluar kamar sampai kamu benar-benar mengeluarkan burung-burung itu
dari tubuhmu!”
Maryam
keluar. Pintu ditutup dengan keras. Terdengar suara celkekan kunci.
Melati
diam. Kakinya ditekuk. Tubuhnya bergetar. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya
sakit. Sakit sekali. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin membasahi
tubunya, matanya membelalak. Ia mengerang dan mengerang lebih keras. Hingga ia
berteriak begitu kencang.
“Saaaaa..aaaaaaaa..kiiiiiittt!!!
Lalu
ia merasakan dunia menjadi gelap dan tubunya melayang.
Maryam
cepat-cepat datang. Ia membuka pintu dan betapa kagetnya ketika ia menemukan
Melati terbujur kaku. Dengan burung-burung di sekitarnya.
Surabaya,
06 Mei 2017
x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar