Sabtu, 06 Mei 2017

BURUNG-BURUNG DI TUBUH MELATI

BURUNG-BURUNG DI TUBUH MELATI

Suatu pagi di penghujung bulan Januari, sewaktu hujan turun sederas-derasnya dan adzan ashar terdengar sayup-sayup, seorang bocah perempuan berumur 6 tahun sedang asyik berbincang dengan burung-burung di dalam tubuhnya.
“Kalau kalian berkaki empat dan memiliki puting susu, apa mungkin kalian masih bisa disebut sebagai burung?” Tanyanya pada burung-burung di dalam tubuhnya.
“Atau kalau saumpama kalian punya belalang seperti gajah, apa bisa kalian tetap disebut sebagai burung?”
Tidak ada jawaban.
“Sebenarnya apa sih yang disebut dengan burung? Apa yang bisa terbang? Bagaimana dengan burung merak? Apa yang punya paruh? Lalu bagaimana pinguin?”
Pertanyaan-pertanyaan itu memutari otaknya nyaris sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang waktu. Hujan berangsur ringan, suara adzan sudah lenyap berganti dengan suara anak-anak membaca kitab di Mushollah.
Melati, anak perempuan yang memelihara banyak burung dalam tubuhnya. Saban hari ia memberi makan burung-burungnya dengan jagung muda yang tidak ia beli di pasar, juga bukan di warung-warung. Ia memetiknya langsung dari ladang jagung yang ia tanam sendiri, juga di tubuhnya.
Ibunya, Maryam, adalah perempuan berusia sekitar 40-an yang bekerja sebagai tukang pijat. Selalu saja ada orang yang datang ke rumah untuk dipijat, mulai dari kaki, tangan, kepala, punggung, perut, hingga bagian-bagian lain. Bagi Melati, ibunya tak lebih istimewa dari burung-burung yang ia punya.
Melati tidak menyukai ibunya dari sisi mana pun, bahkan untuk menyukai sehelai rambutnya pun najis. Maryam suka memukul Melati menggunakan rotan, melemparnya dengan kursi, menyiramnya dengan air comberan, bahkan menguncinya dalam kamar mandi seharian tanpa diberi makan.
“Dengar ya! Jika kamu terus memelihara burung-burung dalam tubuhmu, lama-lama mereka akan memakan seluruh anggota tubuhmu tanpa tersisa. Jantungmu, ususmu, ginjalmu, ototmu, bahkan tulang-tulangmu akan dimakan habis!”
“Tapi kan burung tidak makan manusia.”
“Dasar anak congok! Persis kayak bapaknya yang suka main burung. Kamu pikir siapa yang membunuh ibu seperti ini kalau bukan burungnya bapakmu! Semua laki-laki juga suka main burung. Brengsek!” Umpatnya.
Melati melongo, tidak mengerti apa yang dikatakan ibunya. Tapi satu yang ia tahu: ia dan bapaknya sama-sama punya satu kesamaan, sama-sama suka bermain dengan burung. Juga laki-laki lainnya.
 Kamar pijat Maryam berada di ujung rumah dekat dengan dapur. Jika Melati menuju dapur, selalu saja terdengar suara-suara aneh dari kamar pijat ibunya. Suara yang sangat menjijikkan. Suatu ketika karena penasaran ia intip pintu kamar ibunya melalui lubang kunci. Ia melihat ibunya telanjang, bersama laki-laki pelanggan pijat—yang juga telanjang, mereka saling menindih. Ternyata begitu ya cara mijat. Melati pergi menuju dapur.
Suatu sore ketika langit serupa jeruk dan awan jingga kemerahan, Melati bermain-main dengan burung-burung di tubuhnya, tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk. Melati mengintip melalui jendela. Dilihatnya seorang lelaki menggunakan kemeja biru tua, celana kain cokelat, dan membawa tas yang terlihat masih baru, juga mengenakan sepatu pantofel merah pekat. Tidak ada siapa pun di rumah, ibunya baru saja pergi untuk membeli gula di warung seberang jalan. Akhirnya Melati membuka pintunya, perlahan.
“Mau cari ibu ya Om?” Kata Melati.
“Iya. Ibunya ada?”
“Ibu masih keluar, Om.”
“Eh, iya.”
“Ya sudah om masuk dulu om. Tunggu di dalam. Sebentar lagi ibu juga datang.”
Melati mempersilahkan laki-laki itu duduk di ruang tamu. Ia dan laki-laki tersebut duduk berseberangan. Lima menit berselang, Maryam belum juga datang.
“Om juga suka main burung?” Melati bertanya.
“Hah?” Laki-laki tersebut mendadak bingung.
“Iya, Om. Kata ibu semua laki-laki suka main burung. Aku juga suka kok main sama burung, Om.”
Laki-laki itu kemudian tertawa. Tertawa terpingkal-pingkal, lama sekali. Melati menjadi lebih bingung lagi.
Tak lama berselang, terdengar seseorang membuka pintu. Maryam datang dengan di tangan kanannya membawa kantong keresek hitam.
“Eh, ada Mas Burhan. Sudah nunggu lama, Mas?”
“Emm, nggak juga kok, Yam.” Burhan menahan tawa.
“Emm, anu, Yam. Tadinya aku mau mijetin anakku kesini, tapi kayanya nggak jadi deh.”
“Lho kenapa, Mas?”
“Yam, Yam, kamu itu ya, kalau mau kentu atau melacurkan diri ya nggak apa-apa. Silahkan. Tapi ya jangan ajarkan ke anakmu. Nggak bagus. Masak ya kamu ngajarin dia mainin burung. Hahaha. Yam, Yam. Sudah ya aku pamit dulu. Assalamualaikum.”
Laki-laki itu mengambil tasnya dan berdiri. Sebelum keluar, ia sempatkan untuk mengusap-usap kepala Melati. Melati memandangi laki-laki itu sampai ia membuka pintu, mengenakan sepatu, dan menoleh terakhir kali kepadanya. Lalu ia menghilang. Tatapannya beralih ke arah ibunya. Sekejap ia merasakan ada yang melayang keras ke pipinya. Sebuah tamparan.
“Puas kamu mempermalukan ibuk? Anak goblok! Brengsek.”
Plaaaak. Sebuah tamparan lagi.
Melati tertunduk. Tidak, kali ini ia sama sekali tidak menangis. Kedua tangannya menggenggam erat. Sudah berkali-kali ia disiksa tanpa tahu kesalahan apa yang ia lakukan. Ia tidak lagi bisa menangis.
Ibunya mengambil lengannya dengan kasar dan menyeretnya ke dalam kamar. Dihempaskan tubuh gadis itu sampai tebentur dipan kasur. Ah!. Melati berteriak ringan .
“Kamu tidak boleh keluar kamar sampai kamu benar-benar mengeluarkan burung-burung itu dari tubuhmu!”
Maryam keluar. Pintu ditutup dengan keras. Terdengar suara celkekan kunci.
Melati diam. Kakinya ditekuk. Tubuhnya bergetar. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya sakit. Sakit sekali. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin membasahi tubunya, matanya membelalak. Ia mengerang dan mengerang lebih keras. Hingga ia berteriak begitu kencang.
“Saaaaa..aaaaaaaa..kiiiiiittt!!!
Lalu ia merasakan dunia menjadi gelap dan tubunya melayang.
Maryam cepat-cepat datang. Ia membuka pintu dan betapa kagetnya ketika ia menemukan Melati terbujur kaku. Dengan burung-burung di sekitarnya.


Surabaya, 06 Mei 2017
x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar