Rabu, 11 Mei 2016

SURAH LANGIT

SURAH LANGIT I
S.

Langit menelan kunang-kunang di sela-sela semak belukar, mengembara sampai remang menghitam.
Diantara butir-butir angin yang bugil, ada doa yang mencari celah untuk lewat, barangkali matamu ikut meninggalkan jejak-jejak.
Lalu gemerisik daun gugur, oh kasih. Adakah itu kau?
Sewaktu di hutan yang redup; senjakala itu. Kau pergi sejenak dan kutanggalkan janji-janji.
Sehingga aku sampai disini, bunga dengan kelopak melayu.
Ingin kusiram dengan ranu di bawah telapak kakimu, tapi disini hanya ada bebatuan yang tumpul.
Rama, sudikah kiranya kau datang, tanyaku pada rembulan yang tertinggal di langit.
Tak ada jawab; hanya ronanya yang berlarian.
Tunjukkan apa yang lebih perih ketimbang perpisahan.
Dalam cangkang nun di belakang, seorang manusia setengah singa duduk menunggu
            ; datang dan berserah tubuh
Surah-surah langit berkumandang, meluncur di atas ranting melati.
Kujawab dengan doa yang tidak lebih lirih



SURAH LANGIT II
R.

Apa lagi yang kurang? Jejamuan atau ranjang peraduan.
Sudah kuberikan bahkan jejantung dan peparuku.
Kicau burung yang hampir setiap hari mencumbu bingkai kamarmu terus meracau, dan kau tidak berhenti menyeka ngilu pada kedua rahang dan sel tubuhmu.
Shinta, tiadalah niat untuk mengoyak kudusmu yang meretak.
Kau meregang perlahan
Hati-hati kutafsirkan diriku sebagai siluman berhati setan, batinmu aku jua tahu.
Tetapi, gelombang airku. Aku sudah tertancap. Dan tak kubiarkan melepas dengan maksudmu sendiri. Meski sudah terkelupas dengan genas selembar demi selembar.
Surah-surah langit bergema, bersila di atas ranting melati.
Kujawab dengan harapan yang tidak akan lirih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar