SURAH LANGIT I
S.
Langit menelan kunang-kunang di sela-sela semak
belukar, mengembara sampai remang menghitam.
Diantara butir-butir angin yang bugil, ada doa yang
mencari celah untuk lewat, barangkali matamu ikut meninggalkan jejak-jejak.
Lalu gemerisik daun gugur, oh kasih. Adakah itu kau?
Sewaktu di hutan yang redup; senjakala itu. Kau
pergi sejenak dan kutanggalkan janji-janji.
Sehingga aku sampai disini, bunga dengan kelopak
melayu.
Ingin kusiram dengan ranu di bawah telapak kakimu,
tapi disini hanya ada bebatuan yang tumpul.
Rama, sudikah kiranya kau datang, tanyaku pada
rembulan yang tertinggal di langit.
Tak ada jawab; hanya ronanya yang berlarian.
Tunjukkan apa yang lebih perih ketimbang perpisahan.
Dalam cangkang nun di belakang, seorang manusia
setengah singa duduk menunggu
;
datang dan berserah tubuh
Surah-surah langit berkumandang, meluncur di atas ranting
melati.
Kujawab dengan doa yang tidak lebih lirih
SURAH LANGIT II
R.
Apa lagi yang kurang? Jejamuan atau ranjang
peraduan.
Sudah kuberikan bahkan jejantung dan peparuku.
Kicau burung yang hampir setiap hari mencumbu bingkai
kamarmu terus meracau, dan kau tidak berhenti menyeka ngilu pada kedua rahang
dan sel tubuhmu.
Shinta, tiadalah niat untuk mengoyak kudusmu yang
meretak.
Kau meregang perlahan
Hati-hati kutafsirkan diriku sebagai siluman berhati
setan, batinmu aku jua tahu.
Tetapi, gelombang airku. Aku sudah tertancap. Dan
tak kubiarkan melepas dengan maksudmu sendiri. Meski sudah terkelupas dengan
genas selembar demi selembar.
Surah-surah langit bergema, bersila di atas ranting
melati.
Kujawab dengan harapan yang tidak akan lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar