Minggu, 22 Mei 2016

RUMAH ASAP

Sepuluh besar puisi terbaik Lomba penulisan Puisi Festival Sastra UGM tingkat nasional 2016

RUMAH ASAP
Untuk Ayah Ros, dengan segala kerendahan hati

Seribu tubuh berapi meledak di tujuh mata angin; memecah sejuta ubun-ubun.
Seorang laki-laki melempar jangkar panas, bocah lelaki membuat panah batubara dan menusukkan   kepada jejantung.
Di langit-langit, neon berdebum membelah matahari terbit dan membaginya di atas pemakaman.
Pintu menanggalkan pakaian, iblis mengetuk sambil berbisik “sejauh apapun berlayar, sampanmu akan karam”. Ia lupa bahwa mereka keserupan sebelum ia datang.

Tik tok tik tok tik tok
Jam dinding berdetak kesemutan, bugenvil terbatuk masuk angin.
            ; tapi terlanjur membara.
Dalam-dalam sepanjang jalan dipenuhi arang hitam melegam, kaki telanjang terbirit belum sempat dicuci. Menjemput si jabang bayi yang lahir dari lumbung padi.
Tik tok tik tok tik tok
Jantung mengigil, sudah tua katanya, dan mata mulai mengatup.
            ; tapi terlanjur membabi buta.

Sebuah rumah mengasap mengebul meluruhkan karang-karang jantung di sudut kota, meniup hembus karat-karat pagar bangunan bermata tiga. Bebatuan meletup jadi kembang mengapi.
Dan nafas sebentuk narasi bibir jurang seketika terbenam dalam sebongkah mesiu. Ah!
Jasad-jasad menembang mewangi.
            ; kidung belati
Seribu tubuh berapi merajai di tujuh mata angin; mencakar berjuta-juta ubun-ubun.
Seorang laki-laki sedang melempar mantra. Anak-anak membuat tembikar dari lempengan waluku utara.
Rumah mengasap membumbung sampai tulang nadi remuk mengabu, menghujam ke mata-mata retak.
            ; mata yang mengapak


Pasuruan, 10 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar