Untukmu lelakiku,
Tuan pemilik kesederhanan
Kukirim sajak ini sepeninggal hujan, ketika teras rumah menggigil kedinginan
Kuharap kau mau membacanya, atau sekedar meilirknya barangkali
Boleh aku bertanya
Sihir apa sebenarnya yang kau gunakan? hingga aku bisa sebegini jatuh ke dalam lubang yang entah berapa meter dalamnya. Mantra apa pula yang kau ucapkan? hingga aku berhasil menjadi semacam pecandu rindu, akan lekuk wajahmu, senyummu, aroma jaketmu, getar suaramu, lebih-lebih terhadap janji-janji yang entah kau tepati atau tidak.
Untukmu lelakiku,
Tuan pemilik keteduhan
Kulanjutkan sajak ini dengan rasa getir, takut pabila kau tak menyukainya atau malah tertawa jijik dengan apa yang ku tulis. Aku tahu sungguh aku tahu, belum pantas aku menggilaimu.
Aku tak pernah berhenti menunggu. Tak lelah dan tak mau ambil lelah
Meski ada cemas,
resah, kecewa
cemburu, marah
gelisah.
Ada haru
Untukmu lelakiku,
Muara rasa rindu
Kata apa lagi yang sanggup ku tuliskan jika sebenarnya kau tak perlu dan tak bisa dituliskan.Sebab ku tahu jika kau adalah kata yang hanya bisa kupahami lewat rasa, puisi yang hanya bisa ku baca lewat cinta, nama yang hanya bisa kuresapi lewat doa.
Kepadamu lelakiku.
Aku mencintaimu.. sungguh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar